Sebenarnya membahas tentang ‘hantu skripsi’ sudah tidak relevan lagi di zaman yang sedang berlari sekencang seperti saat ini. Kenapa? Saat orang lain sedang meraup banyak dolar dengan kreatifitas di media sosial, akan sangat memalukan jika kita masih menggalau ria di sana karena skripsi. Bangun, ini sudah mau tahun 2018!
Namun, postingan ini dengan berat hati saya tulis karena belakangan ini ada beberapa junior di kampus menghubungi saya untuk menanyakan perihal skripsi. "Bagaimana cara membuat bab satu, Bang?" Atau, "Bagaimana cara memasukkan teori pada bab dua, Bang?
Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang melatarbelakangi terciptanya postingan ini. Apakah saya pintar sehingga mereka menanyakannya pada saya? Jawbannya tentu bukan. Lantas apa? Ya, mungkin karena saya yang mau memberikan saran dan membalas chat mereka.
Karena terus-terusan di berondong dengan pertanyaan seperti ini, akhirnya keadaan memaksa saya untuk menganalisis kesulitan mahasiswa zaman now dalam mengerjakan skripsi.
Dengan analisis yang ecek-ecek itu, setidaknya saya menemukan beberapa fakta yang menyebabkan dedek-dedek mahasiswa gemes itu kesulitan membuat skripsi.
Analisis ini sangat mungkin dibantah dan dikritisi, karena ini hanya analisis saya pribadi atas permasalahan itu. Namanya juga hidup, kita yang jalani orang lain yang mengkritisi. Begitukan, tuan dan nona?
Rendahnya Minat Membaca
Alasan pertama yang menyebabkan mahasiswa zaman now kepayahan membuat skripsi berdasarkan analisis saya adalah rendahnya minat membaca pada mereka. Ini mungkin dasar masalahnya, sehingga mahasiswa tingkat akhir selalu kelimpungan saat mengerjakan skripsi.
Rendahnya minat baca inilah yang akhirnya membuat mahasiswa kesulitan mencari bahan bahkan untuk membuat judul penelitian sebagai tugas akhir sekali pun.
Membaca banyak buku dan jurnal seharusnya menjadi kewajiban yang patut dilaksanakan oleh setiap mahasiswa. Bahkan, jika ditelisik dalam cakupan yang lebih luas, membaca adalah penting bagi setiap orang, apapun pekerjaan dan kesibukannya.
Tinggi dan rendahnya minat baca sangat mempengaruhi setiap pekerjaan yang dilakukan seseorang. Akuntan akan kelimpungan menyelesaikan rumus-rumus ekonomi jika tak banyak membaca.
Steemians juga akan susah membuat postingan di Steemit karena jarang membaca, sehingga mereka hanya bisa berkomentar datar seperti "keren", atau "mantap" saat membaca postingan yang sedikit panjang. Kenapa demikian? Karena mereka malas membaca sehingga bingung mau berkomentar seperti apa.
Hal seperti tersebut di atas sebenarnya bukan hanya terjadi pada Steemians, selebgram pun akan sulit membuat caption-caption menarik pada setiap postingannya tanpa memiliki referensi bacaan yang mumpuni.
Pada mahasiswa juga berlaku hukum yang sama, rendahnya minat baca akan menjadi kesulitan utama saat mereka memasuki fase membuat penelitian skripsi.
Maka, wahai mahasiswa zaman now sekalian, kurangilah menonton drama Korea dan mulailah memperbanyak bacaan. Karena seimut-imutnya artis Korea mereka tak dapat membantu kalian dalam menyelesaikan skripsi. Boro-boro membantu, kenal sama kalian aja mereka tidak. Betul apa betul?
Buruknya Manajemen Waktu
Ini juga masalah yang tak kalah penting untuk diperhatikan oleh mahasiswa tingkat akhir. Aturlah waktu kalian dengan sebaik mungkin yang bisa kalian lakukan.
Perbanyak waktu belajar dan kurangi stalking Instagram. Sesungguhnya, seburuk-buruk mahasiswa tingkat akhir adalah mereka yang terlalu banyak membuang-buang untuk meratapi status jomblonya dan menangisi mantannya yang sudah bahagia dengan yang lain. Maka sebelum terlambat, ubahlah sikap alay itu, Dik!
Kebiasaan mengatur waktu dengan baik dan tepat seharusnya dilakukan oleh setiap mahasiswa jauh-jauh hari sebelum mereka memasuki semester tua. Kalau bisa mulailah dari semester pertama.
Maka, saat pertama masuk kuliah yang pertama harus mereka lakukan adalah mengetahui kebutuhannya, memanajemen waktu dengan baik. Jam berapa seharusnya belajar, kapan waktu yang tepat untuk bersantai dan bermain gadget.
Hal ini sangat penting untuk membiasakan diri dalam mempergunakan waktu secara tepat. Jika dari awal kuliah manajemen waktu sudah dibiasakan, maka ketika memasuki fase akhir kuliah mereka tidak akan kaget jika sewaktu-waktu alokasi waktu berubah.
Memang begitu? Iya. Begitulah. Yang harus diketahui setiap mahasiswa adalah ketika mereka memasuki akhir perkuliahan berarti memasuki perubahan manajemen waktu yang ekstrem.
Durasi belajar dituntut lebih banyak daripada bermain-main. Karena jujur, pengalaman saat mengerjakan skripsi dulu, saya pernah tidur jam 03.00 pagi seminggu berturut-turut. Dan itu gak enak.
Begadang sambil nonton Barcelona melawan Real Madrid mungkin akan terasa enak, apalagi Barca menang telak dengan skor 3-0 misalnya. Namun, begadang sambil membuat tugas, apalagi tugas akhir sudah tentu tidak enak dan membosankan.
Maka oleh karena itu, saya menyarankan pada mahasiswa akhir setanah air supaya membiasakan diri mengatur waktu dengan baik sejak semester muda. Mudah-mudahan berhasil.
Tidak Mengenal Passion Sendiri
Analisis terakhir yang menyebabkan mahasiswa akhir susah betul membuat skripsi adalah mereka tidak mengenal bakat dan passion sendiri. Mengenal passion diri sendiri sangat penting demi memperlancar suatu pekerjaan.
Seseorang akan sangat sulit mengerjakan sesuatu tugas yang bukan menjadi keahliannya. Seorang ahli komputer misalnya, ia akan kesulitan jika disuruh melukis. Ini karena keahliannya bukan di dunia melukis.
Suruhlah dia memperbaiki komputer, maka dia akan menyelesaikan puluhan komputer yang rusak dalam waktu sepersekian menit. Kenapa? Karena itulah passionnya. Kira-kira begitulah.
Maka jika ada seorang mahasiswa akhir Jurusan Antropologi misalnya, dia suka dan paham betul tentang kajian Antropologi Politik, maka dia akan tenang dan santai menyelesaikan skripsi yang berkaitan dengan Antropologi Politik. Ini karena dia menguasai dan mencintai tema tersebut.
Namun, jika dia dipaksa untuk membuat penelitian skripsi tentang Antropologi Kebudayaan, mungkin sampai ubanan pun dia akan kesulitan menyelesaikannya. Atau katakanlah skripsi itu selesai ia kerjakan, maka hampir bisa dipastikan hasilnya seadanya. Yang penting kuliah selesai dan bisa wisuda bareng doi.
Maka untuk itu, saran saya untuk mahasiswa akhir yang sedang dan akan menyelesaikan skripsi, temukanlah passion kalian masing-masing. Maka tugasmu menggarap skripsi akan lebih mudah dan bisa kalian nikmati.
Jika kalian bertanya, "apakah seseorang akan susah menemukan passion nya?" Maka saya akan menjawab dengan pertanyaan lain, "apakah kalian sulit merasa bahagia saat bersama orang yang benar-benar kalian sayangi?"
Think again!