Sepuluh November kemarin adalah salah satu hari terbaik yang terberi buat saya. Bukan karena saya menjadi pahlawan dan berubah menjadi kuat lantas menyelamatkan Indonesia dari serangan koruptor, tapi karena takdir hidup membawa saya ke tempat yang membikin takjub dan syukur sekaligus: Danau Toba.
Saya sudah seminggu berada di propinsi tetangga, Sumatera Utara, tepatnya di Kota Pematang Siantar dalam rangka penelitian terkait pariwisata Danau Toba. Nasib baik mungkin sedang memihak saya sehingga salah satu dosen di kampus, Pak memilih saya untuk membantu penelitian temannya terkait pariwisata Danau Toba.
Beliau bilang, bahwa kemampuan menulis saya barangkali bisa sedikit mempermudah penelitian temannya. Sebenarnya saya kurang sepakat dengan pandangannya itu, karena jujur, kemampuan menulis saya tidak lebih baik dari seorang alay yang setiap hari update status di media sosialnya.
Dalam hal menulis, saya tak ubahnya kerak-kerak pisang goreng dibandingkan dengan beberapa teman lain di kampus. Alasan kenapa saya yang akhirnya terpilih tentu saja bukan karena kemampuan saya yang haibat betul dalam menulis, pasti ada campur tangan takdir yang memang sedang berpihak ke saya.
Di Pematang Siantar saya semaksimal mungkin membantu Pak Ade Kurnia Harahap dalam kepenulisan penelitiannya. Beliau adalah calon doktor muda pada Universitas Sumatera Utara (USU) yang begitu peduli terhadap lingkungan. Kecintaannya terhadap lingkungan itulah yang melahirkan ide penelitian ini.
Dia prihatin melihat kondisi Danau Toba yang semestinya menjadi wisata andalan Sumatera Utara terkotori dan rusak oleh tangan-tangan jahil yang tak paham etika hidup berdampingan dengan alam.
Bang Ade, begitu saya memanggilnya, merasa khawatir dengan kemunculan objek wisata di pinggir Danau Toba yang tak memperhatikan aspek kebersihan dan lingkungan sekitar danau. Wisata "Panatapan" menjadi salah satu wisata yang dikhawatirkannya.
Bukan tanpa alasan, objek wisata Panatapan (adalah sebutan masyarakat lokal untuk objek wisata yang memanfaatkan lokasi lahan miring untuk memandang keindahan Danau Toba) selama ini dibangun dengan tidak memperhatikan berbagai aspek yang seharusnya memenuhi standar tertentu.
Selain material bangunannya sebagai salah satu aspek yang harus diperhatikan, kenyamanan dan keamanan objek wisata panatapan tersebut juga perlu dibenah demi keselamatan pengunjung. Letak objek wisata tersebut seharusnya juga tidak merusak lingkungan dan tidak menghalangi pandangan pengguna jalan yang ingin menikmati keindahan danau sambil berkendara.
Dari sinilah Bang Ade muncul ide untuk membuat penelitian sebagai jalan keluar. Dia ingin objek wisata Panatapan tersebut tetap ada dan menjadi sumber pemasukan ekonomi bagi masyarakat lokal tanpa menjadi penghalang bagi pengunjung yang ingin menikmati keindahan danau sambil berkendara. Dan tentu saja wisata tersebut tidak merusak lingkungan. Lebih kurang, kurang lebih itulah tujuan penelitiannya.
Tema penelitian itulah yang mengharuskan kami sesering mungkin berkeliling Danau Toba untuk mengamati dan menginput berbagai data. Kemarin adalah kunjungan kami yang pertama ke Danau Toba untuk keperluan penelitian. Namun, bagi saya, kunjungan tersebut lebih dari itu. Ia bukan hanya kunjungan penelitian tapi juga bertamasya sambil menikmati indahnya mahakarya Tuhan bernama Toba itu.
Hujan mengiringi perjalanan kami. Jarak tempuh dari Kota Siantar ke Danau Toba lebih kurang satu jam perjalanan. Selama satu jam itu juga hujan tak bosannya menyejukkan kami. Indah betul pemandangan di perjalanan sehingga jarak tempuh satu jam seakan-akan begitu singkat.
Kami tiba di Prapat, salah satu kawasan Danau Toba pukul 17:12 WIB. Cuacanya sedikit berkabut dan mendung meski Danau Toba tetap terlihat anggun.
Setelah memesan secangkir cappuccino hangat, perbincangan pun dimulai. Sebelumnya saya tak mau melewatkan untuk memotret keindahan danau yang terhampar di pelupuk mata. Setelahnya kami berbincang-bincang persis di pinggir danau.
Bang Ade menuturkan betapa Danau Toba adalah pemberian Tuhan yang belum bisa kita maksimalkan. Ibarat sebuah lukisan, Danau Toba adalah kanvas raksasa yang telah diberi oleh Tuhan dan menunggu untuk diberikan gambar lain yang penuh seni di atasnya.
Seharusnya sinergitas pemerintah dan kesadaran masyarakat sekitar danau adalah crayon terbaik yang mampu menyulap Toba, kanvas raksasa itu menjadi lukisan menarik yang dapat memberi benefit bagi mereka.
Tapi berbagai kalang dosa seperti pemerintah yang korup, ditambah ketamakan masyarakat dengan menebang hutan secara ilegal menjadikan Danau Toba layaknya ladang yang tak dimanfaatkan untuk menanam berbagai tumbuhan.
Seandainya kita bersinergi, bekerjasama mengoptimalkan Danau Toba dengan baik, tentu kesejahteraan masyarakat sekitar Danau Toba adalah keniscayaan. Sambil menatap danau saya menghayal, betapa megahnya danau ini seandainya dimiliki oleh negara Swiss misalnya. Atau bagaimana canggih dan hebatnya Danau Toba ini seandainya terletak di Dubai.
Airnya yang jutaan kubik itu pasti disulap menjadi pembangkit listrik tenaga air raksasa dan moderen yang super canggih. Lampu kerlap-kerlip menyelimuti danau dengan indahnya. Mesjid terapung nan megah dibuat di tengah danau. Dan sebagainya. Nalar saya sempat seliar itu.
Bang Ade seperti bisa membaca pikiran saya lantas memotong hayalan itu. "Kita tak boleh berharap terlampau besar dengan pemerintah untuk mengoptimalkan mahakarya Tuhan ini."
Mungkin ada benarnya. Masyarakat sudah terlalu sering kecewa dengan pemerintah terkait pembenahan pariwisata Danau Toba. Tidak ada gebrakan baru dari pemerintah untuk menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas internasional dan menjadi ladang rezeki masyarakat setempat.
Mungkin tuhan memang menginginkan Danau Toba tak tersentuh dan tetap alami seperti ini. Barangkali tuhan ingin mengajarkan kepada kita cara bersyukur bahwa, terimalah apapun yang menjadi pemberian untukmu, layaknya Danau Toba yang bersyukur dengan segala pemberian untuknya.