
Kita semua tahu bahwa saat ini sedang musim PNS. Artinya lowongan bekerja sebagai abdi negara sedang dibuka besar-besaran untuk muda-mudi yang bertitel sarjana. Nah, anehnya, segala sesuatu terkait PNS adalah misteri. Entah itu perekrutannya, proses pendaftarannya dan lain-lain. Intinya, PNS itu memang misteri. Setidaknya saya meyakininya seperti itu.
Tahun lalu beberapa teman mendaftar PNS pada Kemenkumham. Mereka rata-rata mendaftar sebagai sipir. Karena teman-teman saya rata-rata hanya memiliki ijazah SMA. Dan pun sipir memang salah satu lowongan dengan kuota banyak. Akhirnya mereka ramai-ramai ke Banda Aceh mendaftar PNS itu. Sesampainya di Banda Aceh barulah misteri tentang PNS itu dimulai.

Ada beberapa teman yang memenuhi segala syarat dan kualifikasi tertahan karena hal-hal tak terduga semisal kelewat gendut dan kesehatan yang kurang bagus. Katanya ia mengalami potensi sakit jantung karena kelewat sering merokok. Si teman tak terima tudingan itu karena seumur hidup, jangankan menjadi perokok aktif, sebagai perokok pasif pun dia jarang.
Dia adalah tipikal orang yang memang sulit bernafas jika berada di tengah kepungan asap rokok. Maka oleh sebab itu, ia sebisa mungkin berusaha untuk tidak berada di antara orang-orang yang merokok. Ketika ia dituding tukang perokok dan oleh sebab itu ia gagal tes PNS, maka di situ dia murka. Benar-benar murka.
Ini sebuah keanehan. PNS bisa mengklaim seseorang mengidap penyakit yang sebenarnya tak pernah ada. Bukti medis rasa-rasanya menjadi bulshit ditunjukkan kalau sudah begini. Akhirnya sang teman pulang kampung dengan menanggung marah dan amarah. Saya paham bagaimana perasaannya. Saat itu saya cuma bisa menghiburnya dan memberi semangat bahwa PNS bukan segalanya.

Jauh dari Pontianak kisah aneh lainnya juga terdengar. Kebetulan saya punya seorang guru yang menjadi dosen muda jurusan Hubungan Internasional di Universitas Tanjungpura, Pontianak. Ia adalah putra Takengon yang sudah menetap di Pontianak. Dia mendaftar PNS di lingkungan Kementerian Luar Negri RI. Semua tahap dilakukan dengan baik dan sesuai SOP.
Lantas namanya juga muncul di web pengumuman sebagai salah satu pelamar yang lulus seleksi. Keesokan harinya ia terbang ke Jakarta demi membawa berkas yang diminta agar segera bisa diproses dan ia sah menjadi PNS. Namun, sesampainya du Bandara, sebuah telpon misterius muncul dan membawa kabar buruk bahwa ia gagal lolos.
Tentu ini pukulan telak. Tiket pesawat dari Pontianak - Jakarta sudah terbeli dan hangus. Harapan pupus. Semua terlihat buruk. Dan yang lebih buruk dari semua itu adalah PNS menjadi momok menyebalkan dalam hidupnya. Dua kisah inilah yang membuat saya yakin betul, bahwa, PNS memang sebuah keanehan. Dan oleh sebab itu saya jadi kurang tertarik mendaftarnya sampai detik ini. Begitulah Tuan dan Nona.

Regards