Disclaimer: Semua kata yang kugunakan dalam tulisan ini ada dalam kamus bahasa setiap bangsa yang tersebut. Penggunaan kata atau kalimat yang dianggap tidak pantas oleh Sidang Pembaca nan Budiman, semata bertujuan menghadirkan kenyataan belaka tanpa maksud dan tujuan menyakiti makhluk apapun.
Sidang Pembaca nan Budiman...
Sebelum melangkah lebih lanjut, marilah kita memulai dengan menyepakati pameo "Bahasamu Menunjukkan Bangsamu". Sepintas peribahasa ini bisa dijabarkan menjadi, bahasa tiap orang menunjukkan ia berasal dari bangsa apa. Meski belum tentu juga; Siapa tahu ia Orang Gayo yang sedang berada di Paris dan sedang bercakap dalam Bahasa Perancis. Kemungkinan kedua, peribahasa tersebut menunjukkan bahwa tiap bahasa adalah representasi bangsa tertentu.
Jika seseorang bicara dalam Bahasa Aceh, otomatis dia adalah Bangsa Aceh. Artinya, Indonesia terdiri dari beragam bangsa. Sebab, ada Bangsa Keluat, Bangsa Tetum, Bangsa Bugis, Bangsa Tamiang dan lain-lain. Atau, mungkin yang dimaksudkan pepatah tersebut adalah 'Sikap seseorang menunjukkan jati dirinya'.
Satu dari beragam fungsi bahasa mewujud sebagai maki. Ungkapan perasaan marah yang menjadi ornamen penghias pergaulan antar-manusia. Biasanya muncul saat kesal, marah, kecewa dan murka. Namun, dalam perkembangannya, makian atau kata makian digunakan untuk mengungkap rasa girang terhadap kawan karena sudah lama tak berjumpa atau mengagumi benda dengan kualitas tertentu.
Secara sembarang dan tak bertanggungjawab, aku mencoba membagi makian menjadi 7 genre berikut:
1. Binatang
Generasi makian pertama menggunakan binatang sebagai subjek pengganti manusia yang dijadikan sasaran. Anjing, babi, kambing, keledai, kerbau dan monyet adalah spesies yang sering menjadi sasaran. Tak ketinggalan binatang yang masih dalam metamorfosis sekalipun menjadi ujaran bernada makian; kali ini 'Kecebong Hanyut' yang jadi sasaran. Makian yang menggunakan analogi binatang tidak cuma menjadi milik binatang haram, mamalia maupun ruminansia. Kepinding yang sukar terdeteksipun terlibat dalam kata 'bangsat' yang tumbuh dan berkembang dalam keseharian Bangsa Betawi.
2. Anatomi, Genitalia, Senggama dan Sekitarnya
Jenjang makian kedua menggunakan anatomi tubuh, terutama organ genital. Meski ada makian yang tak menggunakan diksi organ genital seperti jidat, moncong, muncung, kepala dan bokong; opsi organ reproduksi manusia dianggap (oleh para pemaki) sebagai pilihan favorit. Entah mengapa, fungsi kelamin nan mulia justru menjadi berlumur nista saat menempatkannya sebagai diksi makian. Sub judul artikel ini menuliskan "Anatomi, Genitalia, Senggama dan Sekitarnya" karena 'pejuh' (sperma - Jawa) tak tergolong sebagai organ genital, tetapi digunakan sebagai materi makian. Mulanya kupikir penggunaan hasil aktivitas reproduksi yang dijadikan objek makian oleh masyarakat Jawa saja. Namun, tiba-tiba teringat makian dalam Bahasa Aceh yang berbunyi, "Bijeh hana get" yang berkonotasi sama, karena saat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, makian ini berarti si Sasaran berasal dari benih nenek-moyang yang buruk. Makna utuhnya menimbulkan bilur yang nyeri di lubuk jiwa sasaran.
Bahasa Inggris memiliki kadar makian yang paling mengerikan. Suatu ketika aku pernah menemukan, "You are so sucks, Man... Are your parents siblings?" Makian yang satu ini langsung menuduh bahwa sasaran makian adalah hasil hubungan-kelamin sedarah.
Produk persenggamaan lain yang menjadi makian adalah kombinasi antara status anak dengan profesi orangtuanya atau proses yang menjadi jalan kehadiran anak tersebut ke dunia. 'Haram jadah' (anak haram dari hubungan luar nikah), ' kurang asam.
Ungkapan 'kurang asam' (yang populer di kalangan masyarakat Sumatera Utara dan sebagian Aceh) layak mendapat porsi perhatian lebih. Aku langsung teringat pelajaran Biologi asuhan Bu Irwani BA (semoga Tuhan selalu memberkahi amalnya) di SMUN 1 Langsa. Menurut beliau susunan kromosom manusia terdiri dari Asam Deoksiribonukleat (DeoxyriboNucleic Acid - DNA) dan Asam Ribonukleat (RiboNucleic Acid - RNA). DNA berfungsi membawa materi genetika dari generasi sumber ke generasi berikutnya, mengendalikan kehidupan secara langsung maupun tidak, sebagai auto katalis atau penggandaan diri dan sebagai heterokatalis atau melakukan sintetis terhadap senyawa lain.
Sementara, RNA bertugas menyimpan informasi dan menjadi perantara antara DNA dan protein dalam proses ekspresi genetik karena berlaku untuk organisme hidup. Bagaimana bisa masyarakat Melayu yang hidup di kawasan Sumatera Utara dan sebagian Aceh tersebut mengidentifikasi karakter menyebalkan seseorang dengan kekurangan komposisi asam para kromosomnya? Semoga ada di antara Sidang Pembaca nan Budiman yang mampu menyumbangkan pikiriannya untuk menyikapi paradoks atau anomali yang melekati fakta lingustik-biologis-antropologis ini.
Makian bergenre anatomi yang berkombinasi genre-silsilah juga mempertemukan kesamaan Bahasa Aceh dengan Bahasa Inggris yang menghidangkan menyandang makna bersenggama dengan ibu kandung; "Mother fucker" dan "'Ok Ma".
3. Silsilah
Makian bergenre silsilah mengkombinasi garis keturunan dengan binatang dan paduan makian dengan kata kerja atau profesi yang dianggap hina oleh masyarakat. "Dasar anak maling", "Dasar anak anjing", "Dasar anak lonte" dan "Anak babi" kerap muncul saat marah tengah memuncak.
4. Profesi
"Dasar Lonte!" (pelacur)
"Kau memang bajingan!" (penjahat, pencopet, kurang ajar)
Contoh makian di atas menghuni kategori genre makian berdasarkan profesi. Pilihan matapencaharian seseorang yang berkonotasi negatif dijadikan landasan pendongkrak kemarahan. Meskipun belum tentu sasaran maki berprofesi seperti makian yang beralamat padanya. Jadi, jenis ini bisa juga disebut makian bergenre subjektif-temperamental. Namanya juga orang marah, susah untuk objektif, bukan?
5. Objektif-Ekspresif
Meski sulit mengendalikan diri, adakala seorang pemarah cukup mampu meredam gejolak batin dengan memilih makian berikut:
"Dasar anak nggak tau diuntung!"
"Dasar anak nggak tau diri!"
"Dasar bedebah (celaka)!"
Meski menyerang langsung sasaran, makian ini tampak lebih jujur karena tak perlu melibatkan makhluk lain. Jadi aktivitas menganjinghitamkan, membabihitamkan, mengkambinghitamkan, mengkeledaihitamkan, mengkerbauhitamkan, memonyethitamkan dan mengkecebonghanyuthitamkan spesies lain tak perlu terjadi. Setidaknya, dosa Anda selaku pemaki tidak perlu bertambah dari kekesalan makhluk lain yang Anda sertakan secara sewenang, terstruktur, masif dan sistematis dalam berekspresi.
6. Ideologis-Politis dan Agama
Makian jenis ini tergolong langka, meski sesekali tampil untuk menegaskan kemarahan yang memuncak. Partai Komunis Indonesia yang memiliki sejarah kontroversial di Indonesia menjadi sasaran. "Akal kau macam PKI!" demikian bunyinya. Nah... usai reformasi, sempat sejenak muncul ungkapan yang menjelekkan partai yang diidentikkan dengan penguasa Orde Baru. "Jangan Golkar kalilah jadi orang," demikian makian yang tak bertahan lama tersebut.
Di Aceh, makian bernuansa agama kerap muncul khusus terhadap Agama Yahudi. "Akay kah lagee Yahudi!" (Akal kau seperti Yahudi). Entah ini cuma ada di Aceh saja atau hadir juga di masyarakat mayoritas Muslim lainnya. Mohon masukan jika ada.
7. Herbal (Sebuah Resolusi Panyejuk Kolektif)
Genre makian yang kukualifikasi secara sewenang-wenang ini kumaksudkan untuk meramu makian dengan pendekatan pelestarian alam, diet food combining, agrobisnis dan agroforestri. Kesan hijau dalam makian genre herbal akan meredam kemarahan si Target dan -lebih penting lagi- memenuhi hasrat pelampiasan amarah yang bersemayam dalam diri pelaku. Mungkin supaya keren, kita bisa juga menyebutnya sebagai Green Anger untuk membangun kesan sejuk dan permai meski tengah terbakar rasa murka sepanas neraka.
Misal, "Buruk kali cakap kau, macam tomat busuk muncungmu itu" atau "Lidah kau itu udah macam lada itam aja". Atau... "Macam bunga taik ayam tengiknya akal kau itu..."
Mungkin pada tahap awal gejala yang muncul sebagai berikut:
- Pemaki agak susah menemukan jenis tumbuhan apa yang layak dijadikan analogi makian;
- Si Sasaran makian merasa lucu karena pola makian tersebut masih asing dan kurang sadis.
Percayalah... sesuatu yang baru memang kerap sukar diterapkan dan dipahami. Namun, waktu akan menjawab semuanya. Setidaknya, jika upaya mengkonversi segala genre makian menjadi makian bergenre herbal telah sukses berkembang dalam lingkup masyarakat luas; pemaki sudah dapat menyalurkan aspirasinya. Di sisi lain, sasaran makian tak terlalu sakit hati, dendam dan potensi konflik lanjutan dapat teredam. Tinggal satu tugas besar yang mesti kita kerjakan bersama; memikirkan apakah para makhluk yang berlindung dalam Kingdom Plantae mampu menerima beban sebagai pelampiasan amarah manusia?!
Namun, jika engkau memilih merevolusi makianmu ke genre herbal, ada baiknya kuasai seluruh 'rakyat' Kingdom Plantae agar makian selalu menghadirkan kebaharuan untuk menghapus kesan monoton dan membangun citra inovatif. Jadi, ada baiknya mengenal segala buah, alga dan sayur-mayur.
***
Meski secara moral makian tergolong penggunaan bahasa yang terkesan dan berdampak negatif, penggunaannya di lingkar perkawanan justru menunjukkan tingkat keakraban.
Misal, "Njing... coba kau campakkan rokok sebatang kemari...!"
"Woy... setan. Masih hidup kau rupanya. Senang 'kali kutengok muncung kau!"
Kukira, itu sebabnya Agus Hadi Sujiwo (yang sohor dengan panggilan Sujiwo Tejo) dengan bangga memproklamasikan diri sebagai Presiden Republik Jancukers. Sebab, makna dan penggunaan kata 'jancuk' dalam bahasa pergaulan Jawa Timuran sangat ditentukan oleh konteks saat pengucapan. Jancuk bisa bermakna marah, gemas, senang sekaligus girang.
Nah... berdasarkan olah pikiran usil di atas, aku mencoba membangun prasangka; Jika bahasa menunjukkan bangsa, mungkin pilihan genre makian dapat menunjukkan seberapa brutal diri kita masing-masing...???