Malam ini aku mulai berpikir, adakah pentingnya semua yang sudah kutulis? Pertanyaan yang menghadirkan nuansa gloomy dalam jiwa. Apa pentingnya semua olah kata yang kerap tak tentu juntrungan itu. Adakah ia berdampak? Apakah ia bisa bermakna memberi? Adakah ia mengacaukan otak? Merusak pikiran? Menambah pusing?
Aku mulai ragu untuk melanjutkan menulis isi pikiran oleh ketimpangan manfaat dengan mudarat yang tak kutau pasti. Apalagi seorang kawan pernah berkata, “Apapun yang kita lakukan akan kita pertanggungjawabkan!” otakku langsung menilai diri sendiri. Sebab tulisan-tulisan yang telah kubuat berada di luar standar kompetensi dan legitimasi formal. Jika berefek menyesatkan, atau setidaknya menghadirkan bimbang saja, aku sudah menanam sebutir benih neraka.
Memang tak ada satu jiwapun yang menanggung beban dosa jiwa lain. Tapi aku percaya bahwa satu jiwa bisa berdosa atas dorongan hasutan pemikiran jiwa lain. Jika tak demikian, bagaimana bisa muncul istilah pleger, doen pleger, uitlokker, medepleger dan medeplichtige di ranah hukum pidana. Sebagai bukti penyelenggaraan atau terselenggaranya kejahatan kerap kali tak berdiri sendiri. Selalu ada sebab yang menjadi alasan, selalu ada mula yang menjadi pendorong seseorang melanggar hak orang lain.
Pikiran macam inilah yang kutakutkan. Mungkin tiap orang yang berkarya akan mengalaminya. Sesepele apapun hasil kerjanya. Sebab, tak ada yang terlalu sepele di dunia ini. Buktinya ada ilmu speleologi. Di sini pula aku makin merasa cemas. Ini jenis khawatir yang menyerang pikiran. Sebentuk serangan dari dalam yang bikin galur urat di kening makin ramai menonjol. Mewujud efek susah tidur, pikiran buntu, mata terpejam tapi susah menggapai lena.
Saat seperti inilah yang bikin tatap menjadi kosong, tampang bengong-melompong hingga paras menjadi dongong. Seolah segala yang kubuat tak ada artinya. Buntu. Jumud. Ketika cahaya inspirasi seperti tiada arti. Ketika yang kutulis, semua yang kutulis, jadi tampak cuma sederet aksara tanpa makna saja. Bahkan ketika ia telah terjahit jalinan kata dalam rangkai kalimat sekalipun. Wacanapun menjadi abai oleh pesimisme paling membunuh seperti ini. Mungkin akan terwakilkan dalam makna hidup yang membunuh.
Namun, segala pesimisme yang membuat otak berkarat itu luruh ketika kutemukan satu kata: Mungkin. Mungkin saja ada yang sedang suntuk dan khilaf membaca sepintas-lintas. Mungkin saja ada yang terhibur. Mungkin saja ada yang berpikir. Mungkin saja ada yang tertawa. Mungkin saja ada seulas senyum yang bangkit oleh barisan aksara yang terangkai menjadi kata dan meniti makna dalam kalimat. Mungkin saja ada yang marah. Mungkin saja ada yang terlena. Mungkin saja ada yang melambung ke semesta lain.
Maka, dengan tertatih oleh jenuh yang membebani bahu, kucoba melanjutkan saja selama masih ada gejolak yang bisa kubagi. Atau sekedar keisengan yang sedang bersenandung genit dalam kepala. Tanpa mesti terlalu berharap banyak pada daya kata yang kurangkai, pun seberapa penting ini bagi orang yang membaca. Kubiarkan konteks menjadi hakim atas semua tulisan. Menghambur sebagai debu di ketiak zaman.
Akhirnya, aku cukup tenang setelah menjawab sendiri pertanyaan di paragraf pertama. Tulis saja. Berpijaklah resahku pada kata ‘mungkin’ untuk menghibur gelisah diri. Mungkin di luar sana orang yang sedang suntuk dengan berpikir lompat sana, lompat sini. Mungkin entah di mana, seseorang cengar-cengir membaca catatan iseng yang mengurai sebentuk nakal di masa lalu.
Ya. Kugunakan saja ‘mungkin-mungkin’ itu untuk meyakinkan diri untuk tetap menulis, agar ada alasan, selemah apapun itu. Selemah-lemah alasan. Bahkan tanpa alasan sekalipun. Lagipula, setelah kutilik ingatan, tulisanku tak sedahsyat itu untuk berdaya mempengaruhi, apalagi mengubah, pemikiran orang.