Assalamuallaikum..
Disini saya akan kembali me-review Buku Acehnologi Volume III karangan dosen saya Bapak Kamaruzzaman Bustamam Ahmad, Ph.D lanjutan Volume II yang telah saya posting sebelumnya. Buku ini diawali bab ke 22 yang berjudul Kerak Peradaban Aceh, yang isinya bertujuan untuk mengembalikan kesadaran masyarakat Aceh mengenai Peradaban Aceh. Kesadaran yang dimaksudkan penulis adalah proses manusia memulai mengenali apa yang membuat dia berpikir dan bergerak sebagai dirinya sendiri di atas muka bumi ini. Bab ini mengupas setiap episode sejarah pasca abad ke 17, yang selalu dihinggapi konflik atau tragedi berdarah. Dimana Aceh mulai disibukkan untuk menerima system berpikir yang tidak lagi mengakar pada spirit ke-Aceh-an, dan ketika spirit ke-Aceh-an tersebut tidak lagi muncul maka negeri Aceh akan mudah sekali untuk di taklukan. Dalam hal ini, penulis mencoba untuk mencari dimana terjadi ketidaksesuaian antara sprit yang menjadi alaan orang Aceh untuk mengatakan bahwa : “saya orang Aceh”
Baru saja ada terbitan buku tentang Physics of the Future karya Michio Kaku, buku tersebut berisi sejarah dunia yang di dominasi oleh peradaban barat hingga tahun 2100 dan didalam buku tersebut Michio memperkenalkan sebuah istilah baru yaitu Planetary Civilazation, dan terbagi dalam tiga jenis yaitu :
Perdaban dimana manusia mampu mengontrol sumber – sumber enegri dibumi ini dan juga mampu mengontrol cuaca bahkan bisa memuat kota di tengah – tengah samudra
Peradaban dimana manusia sedang memasuki perdaban bagaimana manusia mampu mengambil energi dari bintang
Peradaban yang mengambil energi dari galaksi dari miliaran bintang
Abad ke 21 adalah era Planetaru Civilization, yaitu dengan kata lain apabila kita ingin membangkitkan kembali Peradaban Aceh maka mau tidak mau kita harus memahami aspek metafisik dari Peradaban Barat. Dan inilah kesempatan untuk orang Aceh membangkitkan kembali Peradaban Aceh. Disini juga ada beberapa cara untuk mengembalikannya yaitu :
Menemukan kembali aspek – aspek yang menghidupkan kosmologi Aceh.
Membina jaringan intelektual untuk menyatukan visi dan misi mengenai arah masa depan Aceh kedalam tiga bidang yang telah memberikan spirit orang Aceh.
Menggerakakan Alam piker orang Aceh dari romantisme sejarah ke pencarian spirit dalam setiap episode sejarah Aceh.
Membuka mata hati dan batin terhadap kemampuan peradaban lain yang sedang menggerakkan kekuatan spiritual mereka ke tanah Aceh.
Bab ini menyebutkan bahwa walaupun Aceh diberi keistimewaan, tetapi tetap saja Aceh tidak istimewa dibandingkan dengan tetangganya yaitu Yogyakarta. Ketika Aceh diberikan hak untuk mengurusi diri sendiri, diberikan gelar Nanggroe Aceh Darussalam. Gelar ini sebenarnya sudah menujukkan cikal bakal Aceh seperti era Kerajaan Aceh Darussalam. Namun, sekali lagi gelar ini tetap juga tidak memberikan jawaban yang cukup signifikan bagi orang Aceh. Dan ketika pemimpin muncul pun juga tidak mampu menyelesaikan masalah yang paling hakiki dari pertanyaan rakyat Aceh itu sendiri yaitu menggapai semua gelar yang berikan, tetap saja tidak membawa perubahan yang berarti bagi provinsi ini.
Sekian. Wassalamuaallaikum…