Ruko itu terbagi dua, ruang terbuka yang bersambung dengan teras di bagian depan dan sebuah ruang tertutup berpendingin ruangan tempat aku duduk sekarang. Keduanya hanya dibatasi dinding dan pintu kaca sehingga dari sini, kau bisa melempar pandangan hingga ke tukang martabak di seberang jalan. Cahaya lampu pijar keemasan di tiap sudut ruangan menambah kesan mewah interior kedai kopi tersebut. Di sudut sebelah tenggara sekelompok gadis muda sedang asik bercengkrama dan berbagi berita, gossip, atau apa saja yang ditemukannya di sosial media. Tak jauh dari meja itu, seorang barista sedang asik dengan aktifitasnya sendiri; meracik kopi sambil mengibas-ngibaskan rambut berpotongan 'undercut' -nya.
Di depanku, sepasang remaja duduk berhadapan sambil tertunduk membenamkan diri dalam layar ponsel pintar masing-masing. Si lelaki tak henti-hentinya mengetik sesuatu sambil sesekali menjentikkan abu rokoknya ke asbak di atas meja. Sementara si perempuan yang duduk membelakangiku tak pernah kulihat mengangkat kepalanya sejak kopi 'single espresso' pesananku datang hingga kini nyaris tandas di gelas. Hanya tangan kanannya yang ku perhatikan menepuk-nepuk paha seirama lagu yang sedang dinyanyikan Iqbal, temanku yang berprofesi sebagai penyanyi cafe.
"Kadang aku sering nyanyi sendiri wak, kayak orang gila. Hahaha..." ujarnya suatu kali.
Dia sendiri memulai profesi tersebut saat seorang temannya yang merupakan manejer cafe itu iseng meminta iqbal bernyanyi. apresiasi dari para pengunjung cafe saat itu akhirnya membawa iqbal didaulat oleh pengelola menjadi salah satu penyanyi reguler disana. Tentu saja dengan iming-iming bayaran sejumlah uang.
Tawaran itu disambar cepat olehnya yang memang gemar olah vokal. Menurutnya, melakukan sesuatu yang merupakan hobinya lantas dibayar untuk itu adalah pekerjaan yang paling menyenangkan. Bekerja, tapi tak terasa bekerja kilahnya. Lagipula tak ada salahnya menghasilkan uang dari sesuatu yang memang disukainya tersebut.
Namun Iqbal juga pernah mengeluhkan kurangnya apresiasi terhadap pelaku seni seperti dirinya di kota yang dulunya bercita-cita menjadi madani lalu kemudian direbut oleh seorang bankir yang gemar sepak bola. Bedanya, sang bankir tak pernah benar-benar ingin merubah profesinya menjadi pesepak bola profesional. Sepak bola baginya hanya sebatas hobi dan hal tersebut dilakukan hanya demi kesenangan semata. Sebuah hobi yang pada akhirnya mengantarkan sang bankir ke kursi walikota.
Tak ada salahnya memang menghasilkan uang dengan hobimu. Akupun mengenal beberapa teman seperti itu. Ada yang doyan desain grafis dan mendapat penghasilan dari menjual karyanya di crativemarket. Ada juga yang gemar menulis lalu mendapat upah sebagai wartawan, menjadi ghost writer atau semacamnya. Semuanya kompak beralasan hanya mencoba untuk melakukan hobi sambil menghasilkan sesuatu. Tidak berniat menjadikannya sebuah profesi.
Namun hal tersebut bertolak belakang dengan iqbal yang kini justru terjebak dengan rutinitas sebagai penyanyi cafe. Pernah sekali iqbal curhat soal betapa ianya tak lagi menikmati setiap lagu yang ia nyanyikan. Apalagi, tak selalu penampilannya di apresiasi penonton sebagaimana saat pertama sekali dia bernyanyi di sini. Semua itu dapat kusimpulkan, bahwa dia tak lagi merdeka atas hobinya.
Terlepas dari apapun bentuknya, menikmati apa yang menjadi kesukaanmu adalah sebuah anugerah dari yang maha kuasa. Karena sejatinya hobi tetaplah hobi. Rasa bahagia dan kenikmatan yang kau rasakan saat melakukannya tak akan pernah bisa ditakar oleh apapun. Sekali kau berfikir untuk memperoleh hal lain dari hobimu selain kesenangan, maka bersiaplah kehilangan kesenangan itu sendiri. Tak heran sebagian orang bahkan rela menghabiskan uang yang tak sedikit untuk hobi yang tergolong mahal.
Sementara aku sendiri menulis ini dari atas dipan di kamar sambil menjalankan hobi tidurku. Hobi yang menurutku sangat ekonomis dan jauh dari kemungkinan penyelewengan. Ekonomis karena tak perlu modal besar untuk melakukannya, kau hanya perlu memastikan bahwa kau punya waktu untuk menjalankannya. Juga tak rentan atas penyelewengan hobi bermotif ekonomi yang akan berdampak pada hilangnya kenikmatan tidur. Ah, kok malah terdengar seperti judul skripsi?