Hola steemians...
Hari ini aku bangun agak siang karena memang biasanya juga begitu. Bukan soal malas bangun pagi-pagi sekali, tapi mau gimana lagi, aktivitas yang harus kujalani memang tidak mewajibkanku bangun pagi. Beda halnya dengan kamu yang harus selalu berburu dengan waktu saban paginya.
Oleh karena itu, baru menjelang sore aku punya waktu luang untuk sekedar baca-baca. Baik itu berita maupun ragam postingan yang ada di steemit. Dan menemukan tulisan kak soal kebiasaan mahasiswa indonesia jelang wisuda, aku sedikit tertarik untuk menanggapi.
Seperti yang kita ketahui, orang Indonesia ini memang doyan pesta. Anaknya lahir, buat pesta. Begitu si anak sudah besar dan mengharuskan ujung burungnya dipotong, pesta lagi. Pas si anak sudah dewasa dan itu burung dapat sarangnya, lagi-lagi pesta, dan begitu seterusnya. Seolah hidup kita sebagai masyarakat indonesia memang hanya untuk pesta dan bersenang-senang saja.
Pun begitu saat musibah melanda. Kak Rahma pasti pernah datang ke acara "pesta" kematian yang supaya lebih sopan lazim disebut dengan kenduri. Mulai dari kenduri hari ketujuh hingga hari kesekian puluh. Walaupun sebenarnya acara itu sedikit berbeda karena tak hanya sekedar pesta, tapi juga dibungkus dengan ritual berdoa.
Aku sendiri tidak menolak budaya rajin kenduri begitu rupa sebab telah turun-temurun keluargaku juga melakukannya. Kegemaran berpesta ini sudah menjadi semacam budaya. Yang mana pada setiap momen-momen penting dalam hidup seseorang, keluarga dan orang-orang terdekatnya merasa alangkah sayang jika itu momen dilewatkan begitu saja.
Maka dari itu, kak tak perlu heran dengan budaya parsel-parselan pada perayaan kelulusan. Juga dengan macam-macam hadiah yang harus di siapkan untuk para dosen. Sebab memang sudah begitu adanya orang Indonesia. Sedikit-sedikit pesta. Sedikit-sedikit dirayakan. Meski harus menguras sekian banyak uang yang sebenarnya bisa dipakai untuk biaya hidup berbulan-bulan.
Orang Indonesia memang begitu kak . Bahkan kakak tahu apa, Pidi Baiq saja pernah buat pesta untuk anaknya yang baru menamatkan game Naruto di konsol Playstation. Jika kalian berpikir itu adalah hal yang sia-sia lagi mengada-ada, lalu apa bedanya dengan 'pesta' 7 bulan kehamilan? Juga apa bedanya dengan pesta pora sebelum seorang anak dikhitan? Itu juga sama sia-sianya.
Jikapun hal itu dilakukan sebagai bentuk syukur kepada ilahi, maka bukan berarti boleh dilakukan dengan berlebih-lebihan. Sekedarnya saja dan yang paling penting tidak sampai menyusahkan yang punya hajat. Saya kira untuk hal ini kita semua akan sepakat.
Perihal kak yang bersyukur tidak harus melakukan ritual tamat kuliah khas Indonesia yang memakan banyak biaya itu, aku malah berpikir sebaliknya. Kak Rahma rugi sekali tidak tamat di sini. Sebab begini kak, ada cerita tentang temannya temanku yang baru-baru ini selesai sidang skripsi. Cuma sidang skripsi kak, bukan wisuda. Dan memang dianya melakukan seperti yang kakak hindari, make up berlebihan dan harus menyiapkan pancaragam parsel. Kurasa untuk semua itu, dia harus mengeluarkan uang paling kurang lima ratus ribu.
Tapi kakak harus tahu, dianya juga dapat hadiah dari teman-temannya. Mulai dari karangan bunga, coklat, hingga macam-macam makanan ringan. Dan jumlahnya tidak main-main, semobil penuh! Sampai-sampai dia harus menyewa taksi online untuk membawa pulang itu barang. Kalau mau di hitung-hitung jumlah 'modal' yang harus dikeluarkan dengan total hadiah yang dia dapat, kurasa dia pasti untung. Itu baru sidang skripsi. Bayangkan saja seperti apa banyaknya nanti waktu wisuda. Bandingkan sama kakak yang 'cuma' dapat hadiah baju dari dosen saja. Kasihan sekali kak Rahma.
Jadi pesanku kak, jangan terlalu dipikirkan biaya-biaya yang harus dikeluarkan untuk 'pesta' kecil-kecilan dipenghujung masa studi. Jalani saja, dan jangan lupa berkabar ke teman-teman sejak jauh-jauh hari. Soalnya mana tahu, habis itu kakak bisa jadi punya usaha sendiri. Usaha apa? Ya jualan lah! Jual karangan bunga dan makanan ringan. Emangnya mau dibawa kemana lagi itu hadiah? Dimakan sendiri? Gila aja, bisa berhari-hari ga perlu makan nasi. Eh, kakak sudah selesai kuliah ya? Tidak apa-apa, mari ulang lagi. Supaya habis itu kita bisa buat party!!!