"Bagaimana mungkin aku tidak membencimu?" Katamu dengan tegas dan suara yang meninggi. Aku yang sedari tadi merasa gemetar ketakutan mencoba bersikap baik-baik saja. Hingga tanganmu yang hampir mendarat dipipiku, tapi sayangnya air lebih dulu meluncur dari kedua mataku. Kamupun, menahannya.
Aku tak bisa berkata-kata lagi, segalanya begitu rumit. Tatapan mata yang dulu begitu lembut, kini berubah menjadi begitu menakutkan, seakan tersimpan amarah yang begitu mendalam. Aku sama sekali tidak mengenalmu, kini kamu terasa asing. Bahkan, senyum yang dulu bebas kamu lemparkan kepadaku, kini jadi barang langka yang tak lagi kulihat. "kamu siapa?"
"Jangan ganggu hidupku lagi, pergilah! Aku sudah muak denganmu". Lagi lagi kamu memintaku untuk enyah, menghilang sajalah katamu. Aku seperti sampah yang mengganggu indera penciuman ketika berada didekatmu. Lucu sekali, aku ingin tertawa mendengarnya. Bahkan dulu kamu yang selalu ingin berlama-lama di sampingku bukan? Memintaku untuk tetap tinggal meski aku ingin pergi.
Perlahan kamu pergi usai caci maki yang dengan bebas kamu utarakan, tanpa maaf kamu berlalu begitu saja. Seolah segalanya telah usai setelah mencoba mengusirku dengan kejam. Sedangkan aku, masih berdiri tertunduk lemas. Melihat tanah yang kering, mencoba untuk tak menangis lagi. Aku masih berusaha keras, sekeras perlakuanmu padaku.