Jelang musim mudik saya jadi ingat pengalaman menakutkan!
Yang bisa saya ingat saat itu kami mau mudik dari Bandung ke Cianjur. Usia saya sekitar 6-8 tahun.
Sampai di Terminal lama Muka sekitar jam 11 malam. Saya, mamah, bapak dan adik kemudian naik angkot setelah sekian lama nunggu. Beruntung ada angkot yang ngalong jadi bisa mengantarkan kami ke terminal tempat colt (elsa) menuju ke Pagelaran yang masih di terminal lama Joglo.
Entah jam berapa sampai di Joglo. Meski ada kendaraannya tapi kami tak langsung naik dan duduk. Karena kendaraannya masih ngetem. Nunggu penumpang banyak.
Menghilangkan bosan, bapak ngajak saya dan adik nunggu depan warung di terminal itu. Kalau mamah memilih duduk di dalam kendaraan yang akan kami tumpangi. Selain istirahat juga menjaga kursi supaya tidak ada yang menyerobot.
Entah karena ngantuk atau apa, ketika bapak ngejar adik yang lari-larian dan saya sendiri di bangku itu, saya melihat ada bayangan besar di dekat pintu mau masuk kendaraan yang akan kami naiki.
Saya lihat yang hitam besar itu masuk dan duduk dekat mamah. Saya lari mau kasih tahu mamah kalau itu ada yang menakutkan. Hitam dan besar. Setelah dekat saya hanya berdiri saja gak bisa panggil mamah. Saya pandangi si hitam itu. Mau ngomong susah. Eh dia yang hitam itu menubruk saya! Saya takut, saya nangis...
Mamah memangku saya. Sesekali mengusapkan saputangan basah ke mulut dan pipi saya. Waktu itu ga tahu belum ada tisyu kayanya. Jadi darah di mulut saya dilap sama saputangan itu.
Darah?
Iya kata mamah dan bapak sih kejadiannya saya dan mamah sedang duduk di kursi mobil. Terus ada sopir tembak yang starter dan ga tahu kenapa mobil yang kami duduki nubruk tembok depan parkiran. Saya terpental sehingga bibir saya berdarah.
Saya masih kecil. Tapi saya ingat kok kejadiannya bukan seperti itu. Saya ditubruk si hitam besar itu yang saya ingat. Tapi saya tidak tahu yang hitam dan besar itu apa atau siapa. Wajahnya gak jelas. Tapi matanya dua merah. Saya juga tidak tahu kenapa dia sampai marah dan bikin mulut saya berdarah.
Penampakan besar hitam di pintu kendaraan itu selalu saya ingat. Apalagi meninggalkan bekas. Gusi atas gigi bagian depan saya sobek dan sampai sekarang ada bekasnya.
Tapi misteri si hitam basar itu sama sekali tidak saya ketahui bagaimana selanjutnya.