Tsunami Aceh terjadi lebih 13 tahun lalu, tapi bagi orang Aceh, terutama yang pernah tergulung Aloen Buluk itu pasti tak pernah lupa.
2 Juli 2018, saya tergerak untuk masuk kembali ke museum yang diarsiteki oleh sosok yang sekarang terpilih sebagai gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil. Museum yang seharga Rp. 60 miliar pernah saya masuki ketika masih belum lengkap fasilitasnya. Kini lorong diorama dan juga audiovisual museum ini sudah semakin lengkap.
Saya pun baru teringat untuk masuk ke museum ini, ketika anak tertua saya, Teuku Omar Zahid Fasya, meminta saya untuk masuk. Mungkin ia mendengar kisah dari teman-temannya betapa menariknya museum ini.
Saat kami menuju ke pintu masuk, beberapa rombongan dari Malaysia sedang mendengarkan prolog dari tour guide museum; seorang perempuan yang dengan ramah dan bahasa runtut menceritakan tentang sejarah awal tusnami dan museum. Ketika akan masuk ruang diorama, yang didesain gelap seperti menyulut suasana angker, beberapa ibu-ibu menyurutkan niatnya. Walaupun sebenarnya suara gema di dalam museum itu adalah suara tahlil.
Saya beserta anak dan keponakan tetap melanjutkan perjalanan. Dalam ruang itu, bukan saja gema tahlil, tapi juga rintik air ikut mengecipak di kepala dan badan, mengingat kembali bahwa saat itu bangunan dan manusia hancur dengan seketika. Bagi penyintas, mereka tahu saat itu, tak ada tempat berlindung. Korban basah dan letih di bawah kaki langit.
Setelah itu kami memasuki ruangan kenangan (memorial room) yang dipersiapkan bangunan dengan gambar-gambar kehancuran di beberapa tempat. Setelah itu ada ruang audio-visual yang memperlihatkan video saat Banda Aceh dan Meulaboh beserta 14 negara lain tertampar tsunami. Ada 230 ribu orang, tiga perempat berada dI Aceh yang meninggal dan hilang karena gempa dan tsunami.
Juga ada ruang foto-foto, baik saat tsunami atau masa kini. Salah satunya adalah kisah seorang gadis yang saat itu harus kehilangan kakinya, dan saat ini dia telah menjadi wanita dewasa.
Demikian pula bocah Martunis yang terayun-ayun di laut Aceh, tapi menarik perhatian karena ia mengenakan jersey Portugal. Ronaldo segera menemui anak ini beberapawaktu kemudian, dan menjadikannya anak angkat. Martunis juga sempat magang di klub Benfica junior untuk mengasah kemampuannya. Tidak banyak anak Aceh yang menjadi penyintas tsunami seberuntung Martunis.
Inilah model liburan yang murah, meriah, dan penuh pelajaran. Masuk ke museum tsunami ini tidak dipungut bayaran. Dalam hal ini Pemprov Aceh cukup bijak dan baik hati. Dengan fasilitas yang "mewah" dan nyaman, menarik kontribusi Rp. 5.000 - 7.000 pengunjung pun bersedia.
Bayangkan masuk museum satwa langka, Galeri Rahmatsyah, yang harus merogoh Rp. 50.000 untuk dewasa atau penangkaran buaya di Medan seharga Rp. 6.000 per kepala pun kita rela. Atau ambil patokan tiket masuk Museum Negeri Sumatera Utara yang Rp. 5.000 per dua orang, bisa dijadikan acuan.
Inilah bagian dari warisan tsunami yang bisa menjadi pengetahuan sosial. Warisan seperti ini perlu dipertahankan, dibandingkan membangun perkantoran dengan melibas semua pohon-pohon kota. Tragedi dan anomali manusia modern.
2 Juli 2018