Demokrasi itu menempatkan harkat atau harga diri kekuasaan pada daulat rakyat (sovereignty of people). Pasti dengan keinginan untuk tak menghianatinya terlalu cepat.
Demokrasi itu adalah timbangan waktu atas human condition yang bisa berubah, fleksibel, dan relatif. Namun dari semua syarat yang bisa menjadikannya buas bagai binatang, demokrasi masih lebih baik dari sistem kekuasaan lain. Demokrasi menempatkan kekuasaan tidak sakral tapi juga tidak majal. Kekuasaan adalah satu sifat peradaban yang menunjukkan manusia lebih hebat dari seluruh makhluk melata di dunia ini.
Demokrasi itu mensyaratkan pikiran terbuka luas sekaligus bijaksana. Di tangan manusia durjana, demokrasi bisa menjadi mesin perontok kemanusiaan. Di tangan peragu, demokrasi menjadi penjara impian. Di tangan pembelajar, demokrasi adalah skenario permainan dinamis tiki taka ala Guardiola.
Demokrasi bisa menjadi antidemokrasi di diri orang tak setia pada kata, tak teruji pada janji, dan tak peduli pada visi. Demokrasi bisa jatuh lunglai dan menjadi sangat menjijikkan sekaligus menyedihkan.
Demokrasi hari ini diperebutkan, ketika pilkada dilaksanakan dan pemilu diuarkan. Demokrasi ditinggalkan ketika semua pesta pora itu usai ditunaikan.
Demokrasi itu bukan lagi milik filsuf Yunani. Diksi demokrasi yang dulu mereka luhurkan saat ini bisa disebut oligarki. Karena itu demokrasi memerlukan konteks untuk menjadikannya sempurna dalam waktu dengan pembahasan yang terus terbuka pada tanya.
Jangan lupa, gantungkan cita-cita perubahanmu pada selang demokrasi, sambil terus berkaca diri apakah kamu masih patut disebut sebagai pejuang demokrasi atau pelelang hati nurani.
14 Februari 2018