Ada satu hal yang mengembirakan dalam dunia Steemit, bahwa semakin ke sini semakin banyak yang bergabung. Motivasi orang bergabung di Steemit pun beragam. Sebagai penulis profesional seperti , menulis adalah bekerja sebenarnya, menggunungkan kreativitas dan menghasilkan uang.
Kalau melihat kualitas posting-nya, seharusnya ia mendapatkan reward berpuluh-puluh kali lebih besar dari saat ini. Hanya masalah teknis yang membuat tulisannya masih mendapatkan up vote minimal. Itu karena ia baru di dunia Steemit sehingga masih salah dalam pemilihan tag dan juga momentum pelepasan tulisan. Katanya momen paling baik merilis tulisan di Steemit adalah setelah magrib di Indonesia atau ketika di Amerika Serikat sana awal pagi, ketika para pembesar Steemit sudah bangun tidur dan sedang berselancar di dunia Steemit sambil sarapan panekuk. Awalnya saya juga seperti , tapi berkat bimbingan
dan kurator KSI
hal-hal teknis per-Steemit-an itu mampu saya lampaui, meskipun tidak juga sempurna.
Sayangnya, banyak tulisan yang berseliweran di Steemit seperti melepaskan kata-kata "plastik" saja. Ada banyak hal remeh temeh dan cemen seperti urusan rekreasi, makan siang, minum jus, jalan-jalan, dsb, yang tidak dinarasikan dengan baik, tak memiliki peran literasi lebih luas. Kalau mau menulis tentang makan mie, lalu apa? Kalau pergi ke kolam renang, apa yang ingin digugah?
Tulisan itu tidak "membesar". Nampaknya tulisan seperti itu tidak diharapkan menjadi tulisan yang dikenang, hanya mengharapkan belas kasihan upvote, hadir tanpa kesadaran penuh penulisnya.
Saya kasih contoh penulis "remeh-temeh" yang nyan cap paten. Penulisnya Samuel Mulia. Ia aslinya adalah seorang perancang busana dan berpendidikan sarjana kedokteran. Tulisannya di kolom "Parodi", Kompas minggu mengangkat hal-hal keseharian kita, seperti boros berbelanja, pamer fashion kaum sosialita, perjalanan ke luar negeri, membantu orang tua di jalan, atau kesepian tinggal apartemen kota besar. Namun tulisan itu menjadi "berisi" bagi dunia pembacanya. Bahkan banyak pembaca fanatiknya mengkliping tulisan mingguannya itu. Saya sendiri harus membaca tulisan Samuel Mulia ini, disamping cerpen, esei budaya Jean Couteau, dan puisi. Ya, saya penggemar berat puisi, apalagi yang ditulis dengan penuh hati-hati dan berhati bening.
Saya ingin kasih nasihat dari sebuah buku Bryan Hutchinson: Writer's Doubt. Ia mengatakan bahwa kadang - atau bahkan sering - penulis baik amatiran dan profesional menghadapi keraguan dan ketakutan dalam menyelesaikan tulisannya. Kita bisa melihat tulisan yang tidak lagi "bernyawa", setelah beberapa kalimat atau kata itu dimulai.
Problem seperti itu kadang saya alami, ketika saya menulis di luar motivasi sesungguhnya, seperti sudah lama tidak menulis untuk Kompas atau harus meng-up date tulisan untuk Steemit. Yang terjadi adalah rutinitas. Rutin adalah musuh bagi kreativitas dan kriminal sang pembunuh ide. Menulis memang harus dibiasakan, tapi jangan menjadi rutinisasi. Persis seperti karyawan di pemerintahan yang bermuka masam dan lemah energi. Hadir cuma untuk finger print absensi. Bisa dilihat malasnya karyawan seperti itu. Mungkin juga honornya tak akan cukup untuk biaya hidup dan beli bedak dua minggu.
Itu adalah perumpaan orang yang asal posting, seperti di Steemit. Apalagi kalau alam bawah sadar menulis untuk mendapatkan up vote sehingga mempublikasi tulisan sekenanya dan foto secepretnya tanpa punya tujuan untuk memberikan gugahan literasi dan visual, minimal bagi diri sendiri. Kita bisa melihat orang yang sekedar posting juga akan mendapatkan sekedar up vote.
Nasihat kedua berasal dari buku Critical Fiction :Politic of Imaginative Writing (1991) yang dieditori Philomena Mariani. Buku ini termasuk favorit saya. Saya baca berulang karena inspirasi yang terus mancur tak henti-henti. Salah satu yang berbinar adalah ketika membaca kutipan Luisa Valenzuela, penulis dan sastrawan kelahiran Buenos Aires, Argentina: The writer who stayed behind said – and may keep on saying, now, long after the horrors are over – that those who left lost touch with local reality and were never able to sense the deep truth. Yang maksudnya kira-kira bahwa penulis harus bergeming dengan apa yang dituliskannya. Ia adalah pembela kata-kata sendiri meskipun ada situasi traumatik yang mengancamnya. Menulis itu adalah menjejak realitas yang kita alami dan berupaya menembus kebenaran terdalam dari yang kita pikirkan.
Pertanyaannya, dalam tulisan yang sesederhana apapun yang kita tuliskan, apakah kita membawa perasaan terdalam ? Saya tidak bicara tentang "berkah" yang telah dimiliki penulis profesional, tapi juga penulis amatiran , termasuk di Steemit. Pasti para penulis amatiran di Steemit ingin meningkat derajatnya menjadi penulis profesional dengan limpahan ketenaran, publikasi, dan uang.
Saya melihat bakat-bakat itu sudah ada seperti pada diri dan juga "Don Corleone" M Kupi
. Tulisan
mirip penulis feminis yang banyak memakai hati: lembut seperti pulut kuah tuhe dan pisang raja. Adapun
, meskipun ia menyadur dari teks bahasa Inggris, mampu menjadikan teks itu miliknya. Itulah keberhasilan penulis sebenarnya dibandingkan penerjemah.
Saya ingin lihat penulis-penulis Steemit yang berkembang dan menjulang tinggi lagi ke depannya. Tulislah tanpa rasa takut. Tulislah dengan sekeranjang ide-ide baru, imajinatif, segar, dan menyebar. Jangan menyempit dan layu kurus kering. Dari penulis "bayi" menjadi penulis yang menjulang tinggi.
3 Januari 2018