Kalau melihat perjalanan Januari ini, yang dikenal sebagai "bulan penuh kelesuan" berlaku pula bagi Steemians.
Bagi kita semua, Desember adalah bulan penuh keagungan. Saya sendiri banyak sekali undangan pada bulan November dan Desember. Perjalanan luar kota bagai bolak-balik Pasar Bathuphat - Blangpanyang.
Demikian pula dengan keagungan harga SBD.
Bayangkan, harga SBD yang sepanjang tahun 2017 hanya berkisar Rp. 13.000-14.000 tiba-tiba di akhir November hingga akhir Desember menjadi Rp. 90.000 - 180.000. Bahkan katanya pernah menyentuh Rp. 200 ribu dalam beberapa jam. Itu tak lain karena dunia hiperkalitalisme media sosial ini sedang menghadapi kompetitor serupa Steemit yang lebih dahsyat dalam memberikan reward. Beberapa pemburu rente segera antri di media baru itu, yang belum jelas wujudnya. Saya sendiri bergeming tak mencoba mendaftar media sosial baru itu. Strategi Steemit meninggikan harga SBD sebenarnya agar pengguna tidak lari ke lain hati.
Para newbie pun banyak mendaftar karena mendengar dollar Steemit yang sedang gila-gilaan, seperti menggilanya harga Bitcoin. Sungguh ada sedikit kesenangan bulan Desember itu. Saya menukarkan 19 SBD kepada yang juga manager Nanggroe Steemit Community (NSC) pada 20 Desember 2017 mencapai Rp. 3.3 juta.
Tentu ada biaya administrasi yang tak seberapa dan pinayah yang harus dikeluarkan, entah sebagai infak atau sedekah atau ujurah (success fee). Tentu saja zakat kepada kerabat, yatim, dan miskin harus dikeluarkan juga. Namun uang itu bisa menyelamatkan liburan saya di Medan saat itu bersama keluarga. Thanks anyway to .
Namun Januari ini, SBD pun mesimban jatuh. 3 Januari 2018 siang menanyakan, apa saya memiliki SBD. Ia ingin berniaga dengan itu. Saya bilang ada, tapi kecil-kecil. Dia bilang tak apa. Saya hanya punya 16 SBD dan ia langsung menyatakan akan membeli Rp. 2.4 juta. Itu berarti ia membeli seharga Rp. 150.000 per SBD. Belum sempat saya transfer SBD ke
, uang sudah masuk ke rekening saya. Tentu saya menyuruh langsung potong pinayah dari uang itu, yang tak perlu disebut di sini karena bisa jadi pamer. Tapi, nasihat saya untuk sesiapa yang mau menukarkan SBD: kalian harus mau memberikan uang lebih kepada sang pembantu yang mencairkan SBD. Jangan pelit, karena pasti akan menyebabkan kalian ditimpa penyakit, bencana, kerugian, dan dijauhi teman.
Ternyata 3 Januari sore harga SBD sudah "mencret" menjadi Rp. 120.000. Saya baru mengetahui beberapa hari kemudian. Saya tanya , apakah ia merugi. Dia bilang tidak karena SBD itu bukan untuk konversi, tapi untuk niaga.
Kini SBD benar-benar terluka. Harga kemarin katanya dibawah Rp. 60.000. Trennya selama ini berkisar Rp. 52.000 -58.000. Terlihat kecil bagi penjaja SBD. Saat ini lupakan liburan dan membeli barang-barang penting lainnya.
Namun bagi yang menjadikan Steemit sebagai media bersosialisasi, promosi, dan berbagi pengetahuan, aktivitas posting harusnya jalan terus. Mungkin bagi penulis profesional tidak menarik untuk membuat tulisan dan memposting di Steemit, dengan vote rendah dan harga SBD segitu. Namun bisa jeda sebentar dan membuat tulisan di media massa.
Jangan lupakan, bahwa menulis dan berkarya adalah jatah hidup manusia berbudaya, baik saat SBD meninggi dan Steemit berjaya, atau ketika SBD sakit keras dan Steemit terpuruk.
Happy Friday dan take a prayer