Ketika Indonesia Challenge 9 dilaksanakan, saya baru saja bergabung di Steemit. Saya bergabung di media sosial baru ini setelah “dibujuk” , sastrawan cum wartawan. Ia mengampanyekan dunia Steemit memberikan sesuatu yang belum terjadi sebelumnya, yaitu reward kepada penulis blog dengan beragam aktivitas yang dilakukan : publikasi tulisan, komentar, dan upvote : tanda like kita kepada tulisan orang lain. “Tak ada ruginya kita di sini, karena kita tak mengeluarkan modal apapun kecuali kerja membuat tulisan. Dan itu memang dunia kita”, katanya.
Meskipun saya sudah menjadi “penulis profesional”, di Steemit saya masih anak bawang. Beberapa junior dan juga “murid-murid” sekolah literasi saya sudah memiliki posisi masing-masing di dunia ini. Namun saya anggap itu wajar. Mereka lebih tahu dan menguasai Steemit. No jealousy is allowed here! Saya melihat semua anggota membangun positive thinking yang belum pernah saya lihat di dunia media sosial lain, seperti misalnya facebook atau twitter.
Namun ketika saya memohon kepada sang juri IC 9 yang juga kepala biro Lhokseumawe Serambi Indonesia di dalam grup whatsapp untuk ikut lomba, ia mengatakan sebaiknya saya tidak ikut. Ia tak banyak memberikan alasan. Namun saya menangkap clue-nya. Ini lomba untuk para pemula. Untuk apa saya peucrok droe (menjebloskan diri) ke dalam persaingan yang bisa membuat para penulis pemula kecil hati.
Lagi pula apa yang saya cari jikapun saya juara? Saya sudah menikmati posisi tertinggi di dunia penulisan di Indonesia, meskipun itu tidak gratis. Itu buah kerjakeras: ditolak, terhina, putus asa, dan belajar tiada henti. Saya telah menulis di semua media massa nasional, memenangi beberapa kali juara menulis, bahkan pernah yang hadiah Rp. 20 juta. Ketidakikutertaan saya melegakan hati rekan-rekan meskipun mereka tak pernah mengatakan.
Tapi yang melegakan, di grup ini saya menemukan banyak talenta yang belum pernah tahu sebelumnya. Inilah yang disebut oleh Pak Presiden Jokowi generasi Y, orang yang telah di dunia industri kreatif, satu langkah menuju persaingan global.
Di grup saya bertemu dengan rekan-rekan lama. Ada yang terus menyemangati sejak menit pertama bergabung. Ada
yang mulai memperkenalkan tulisan saya di facebook. Ada
yang meskipun ngakunya berasal dari daerah klek-klok Aceh Utara, sangat mahir urusan teknologi media. Ada
dan
, kaum Ten Tai Chi yang menguasai dunia persteemitan pada level Mahalli ketika saya masih tingkat Matan Taqrib.
Di dunia kerja saya bertemu yang ternyata senior di urusan ini. Ada
dan
yang sudah terbang-terbang di dunia literasi. Di seberang lautan ada
yang punya postingnya lucu-lucu dan khas ibu-ibu. Di barisan dosen Unimal juga sudah mulai bermunculan satu-satu. Meskipun dari barisan dosen masih sedikit yang mau bergabung.
Pada suatu hari, kurator Steemit Indonesia, , menghubungi saya meminta menjadi juri pada IC 10. Saya menyanggupinya. Padahal saya tahu juri di Steemit ini tidak ada honornya. Namun pendekatan
yang rendah hati, sopan, respek pada lawan bicara, membuat saya memahami kenapa dia bisa berada pada posisi tinggi saat ini: positive thinking. Itu adalah buah proses positive attitude yang terus dipertahankan. Saya secara pribadi belum pernah ketemu, tapi karakter seseorang bisa dibaca dari kata-katanya.
Dengan pelbagai tahapan teknis, lomba yang dimulai sejak seminggu sebelumnya ditutup pada 16 September 2017. Ada 122 artikel. Saya sejak beberapa hari sebelumnya sudah membaca beberapa artikel dan menandai yang bagus sebagai nominator. Namun pekerjaan seperti ini tidak bisa terus-menerus saya lakukan. Ada urusan saya menulis, mengajar, meneliti, mengurus anak-istri, dan menonton bola setiap sabtu hingga minggu malam.
Akhirnya jika ada pemenang mereka memang orang-orang terpilih. The choosen ones, istilah Jose Mourinho. Pemenang pertama, adalah orang yang saya temukan belakangan ketika rangking juara sudah mulai saya susun. Saya secara pribadi tidak pernah tahu siapa dia. Tapi tulisannya membuat saya langsung jatuh hati. Itu karena ia mampu mengguratkan “luka lingkungan hidup” menjadi “kata kebudayaan”, tulisan yang menggugah orang lain.
sudah lama saya pantau tulisannya. Ia konsisten di jalur lingkungan hidup. Saya melihat ia memang telah mengabdikan hidup bagi alam yang lestari. Ada banyak data dan fakta, disamping analisis dan kebahasaannya yang bagus. Saya lihat inilah advokat lingkungan yang berguna bagi Aceh sejahtera lingkungan.
Kalau saya sudah pernah membaca kolom-kolomnya sejak era Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) masih menjadi “dukun pembangunan Aceh”. Saya tak ingat apakah ia juga bekerja di BRR itu atau orang luar yang memantau konsisten pembangunan Aceh. Dunia literasi telah akrab baginya. Juara III adalah pantas dan bukan sesuatu keburukan.
Berbeda lagi dengan . Saya sudah melihat wartawan muda ini melesat jauh dalam dunia penulisan. Saya seperti melihat sosok Paul Pogba remaja yang disia-siakan Manchester United kemudian dibeli Juventus. Di Juventus ia perlihatkan bahwa ia berlian yang penting, sehingga ia ditebus sangat mahal oleh MU kembali. Saya sudah memperhatikan tulisan
sejak masih berwujud mangga masam hingga menjadi fruitcocktail yang nikmat. Ia kadang konsultasi secara pribadi dengan saya, dan sangat mau menerima pelajaran. Sosok rendah hati seperti dia akan mendapatkan sukses yang banyak ke depannya.
Ini mirip yang di publikasi awal hanya mampu membuat beberapa kata saja, sehingga ia berkembang membuat “tulisan” – dalam arti sebenarnya karena mampu menyusun lebih 400 kata yang berbobot, bukan hanya “hai Steemians, berjumpa lagi dengan saya”.... Dari seluruh pemenang,
yang paling puitis judulnya. Ia juga mampu membuat foto-foto yang tajam.
Last but not least, adalah sosok yang sudah sangat terkenal. Bukan saja ia pemenang paling senior secara biografis tapi juga pengalaman. Ia adalah seorang aktivis dan seniman senior Aceh. Ia pernah menjadi pengurus BRR pada posisi penting. Saat ini juga pemimpin redaksi sebuah media online yang cukup berpengaruh di Aceh. Namun dengan segala “entitlement” yang dimilikinya ia tak pernah sok besar.
Meskipun harapan III ia ada tak pernah menunjukkan setitik zarah pun rasa kecewa. Bahkan Bang adalah orang yang tertawa paling awal dan paling cepat mengapresiasi para pemenang lain. Itu hanya bisa dilakukan oleh orang berjiwa besar dan berpikiran positif. Di dalam grup kami tertawa bersama dan saling menasihati untuk lebih maju ke depan.
Jadi agak aneh di dalam dunia Steemit serba yang positif – sejauh ini - ada sosok seperti , pengguna akun palsu seperti dunia facebook atau twitter. Di media sosial lain fungsinya hanya membangun kampanye negatif atau twitwar politik. Di Steemit hampir tak ada makhluk palsu karena semua harus memperkenalkan diri dalam rubrik introduceyourself. Kita menertawakan kelemahan masing-masing dalam batas-batas wajar, karena tak ada yang penting kita tinggalkan di dunia ini kecuali nasihat untuk kebaikan dan saling membantu.
Mempermasalahkan kesalahan ketik? Hellowww? Ini bukan kompetisi untuk para profesional writers. Para pemula yang menang di sini harus dimaafkan, karena tidak satu naskah pun yang sempurna dan bersih secara editing. Bahkan saya yang sudah mempublikasi lebih 700 artikel di media massa nasional dan lokal serta menerbitkan/mengeditori belasan buku sejak 1999, masih saja sering salah. Apalagi untuk dunia voluntary blog seperti Steemit ini. Jika Anda tak pernah punya jiwa memaafkan, maka tak pantas dimaafkan. Itu saya yakini. Hidup adalah keseimbangan dalam memaafkan, berpikir positif, dan membantu sesama. Saya pikir pesan ini dimiliki agama dan budaya besar manapun.
Namun ada satu yang mempersatukan para pemenang dan nominee di IC 10 kali ini. Semangat! Semangatlah yang mampu mengalahkan kualitas/kelas di atas kertas. Semangat bisa menjadi pembeda, seperti Korea Selatan yang mengalahkan Italia atau Senegal mempermalukan juara bertahan Perancis pada Piala Dunia 2002. Semangat pula yang memberikan kejutan pada dunia ketika “negara medioker” Kamerun melibas raksasa Argentika pada pembukaan Piala Dunia 1990. Padahal pada pertandingan itu Kamerun tinggal sembilan orang melawan para dewa Latin, salah satunya Maradonna. Hal-hal seperti Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki semangat menebal di dada, termasuk di dunia tulis-menulis ini. Nothing is impossible!
Jadi kompetisi ini sama sekali bukan soal materi. Berapa sih reward yang bisa saya dapatkan dari penjurian lalu tersebut? Kalau tulisan saya diterbitkan Kompas dan Suara Pembaruan saya mendapatkan reward 90 SBD, Media Indonesia, The Jakarta Post, dan Satuharapan.com 70 SDB, Koran Sindo 60 SBD, Serambi Indonesia 9 SBD. Tapi ini bukan soal SBD. Ini soal persahabatan, soal orang-orang yang bergembira untuk maju tanpa perlu melecehkan orang lain. Orang yang membuat kita penting karena menulis dibandingkan hanya bicara. Itu mahal harganya bookkk.
Untuk jamaah Steemians lainnya, mari kita rayakan dunia baru ini, untuk berkembang dan maju bersama.
Cheers
18 September 2017