Tak ada yang seindah hujan. Datang dan pergi menghapus luka. Membersihkan segala kesedihan yang teraut di muka. Bintik-bintik pengalaman yang memadat di sukma.
Ketika hujan datang dan membasahi bumi, rasa penat melarung dalam lorong waktu. Setiap dari kita pasti punya runtutan cerita atas nama hujan: Ada kisah ciuman pertama di bawah payung jingga, ada tempaan masa remaja dengan lumpur membalut seragam, ada duka cita saat mengubur yang tercinta, ada teriakan menghadang tentara rejim yang durjana, ada pelukan yang bertautan pada hati tak bernama. Embun di tubuh adalah saksinya.
Setiap hujan adalah tabungan memori. Hujan adalah akal itu sendiri. Seperti wahyu Tuhan yang tertitah dalam setiap mendung, ia membawa syukur dan zikir dalam bulir-bulir airnya. Geluduk pemecah sunyi adalah tasbih Azza wa Jalla. Gelap di langit adalah rambut tebal si gadis jelita. Hawa dingin adalah nyanyian malaikat untuk kita yang lupa.
Genangan air di rumput yang kering adalah tahmid untuk makhluk yang meronta. Hujan sungguh sepenuh body doa, dari air mata petani mengharapkan ridha. Kadang hujan datang sedemikian lebatnya sehingga membawa bencana. Kadang hujan turun cukup rintik seperti si bujang menunggu laksmini dengan cinta membahana. Meskipun waktu hujan berjalan lambat, kita tetap setia menantinya.
Apapun lukisan hujan dalam dunia nyata, pastilah kita terus merinduinya. Entah hari ini, atau esok hari ketika ombak ikut menyapa.
28 Februari 2018