Selamat sore Tuan dan Puan Steemians...
Sore ini, saya tidak akan berpanjang-panjang kalam, apalagi kondisi di Banda Aceh ini masih cukup panas.
Baik, sore ini saya hanya ingin berdiskusi sedikit dengan Tuan dan Puan tentang topik membaca. Terkait topik membaca ini sudah pernah saya tulis dalam beberapa tajuk di steemit, tentunya dengan materi yang berbeda dan minus pengulangan.
Kali ini saya hanya ingin membahas tentang pola membaca yang sering kita lakoni sehari-hari.
Sebenarnya, ada banyak pola yang bisa digunakan dalam membaca, tidak hanya dalam membaca buku, tapi juga segala jenis bacaan, sampai papan iklan sekalipun, atau mungkin juga sms gelap.
Sore ini kita akan membahas tentang pola "baca khatam" (tamat) dan "baca loncat."
Mungkin saja topik serupa ini sudah pernah ditulis oleh penulis-penulis terdahulu. Tapi hal tersebut tidak menjadi penghalang untuk kita tulis kembali. Sebab tidak ada kepemilikan yang absolut pada topik umum semacam ini.
Lagi pula kita sebagai penghuni entah generasi keberapa di dunia ini, hanya mampu mengulang apa-apa yang sudah ada. Dan kita tentu tidak bisa keluar dari lingkaran ini, sebab tidak ada yang benar-benar baru di bawah kolong langit ini, bahkan imajinasi sekalipun tetap memiliki rumpunnya sendiri.
Baik, agar tidak tergelincir dari topik yang telah kita tentukan, sekarang mari kita kembali ke topik baca khatam dan baca loncat.
Tuan dan Puan, secara sederhana baca khatam adalah membaca keseluruhan tulisan sampai akhir, tanpa satu lembar pun tertinggal. Dengan kata lain, buku-buku itu dibaca sampai tamat, sampai habis, sampai lembaran terakhir.
Sebaliknya, baca loncat adalah membaca buku secara loncat-loncit pada bagian-bagian tertentu saja. Dari 200 lembar isi buku misalnya, hanya 10 halaman yang dibaca serius, selebihnya hanya diintip dan dilirik.
Dari dua pola membaca tersebut muncul dua pertanyaan.
Pertama, apakah si pembaca khatam tidak akan merasa bosan dengan durasi baca yang lama?
Kedua, apakah si pembaca loncat akan paham apa yang dia baca?
Sebelum menjawab dua pertanyaan tersebut, baiknya kita tegaskan dulu bahwa tidak semua bacaan harus dibaca khatam, dan tidak semua bacaan pula bisa dibaca loncat.
Bacaan jenis novel misalnya, memang harus dibaca khatam sampai tuntas. Jika tidak, bisa "rusak" itu barang.
Sebagai contoh, kita tentu akan kebingungan menebak- nebak nasib Datuk Maringgih jika Novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli itu kita baca sepenggal. Demikian pula dengan nasib Hayati dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck pun akan tetap menjadi misteri.
Sebaliknya bacaan dengan tema-tema pendidikan, politik atau psikologi misalnya, tidak perlu dibaca seluruhnya. Kita cukup membaca beberapa bagian saja yang kita anggap penting.
Tentu akan sangat aneh jika ada sebagian kita yang mencoba mengkhatamkan Kamus Arab-Perancis sampai berbulan-bulan misalnya. Atau membaca koran dari headline sampai iklan oil penumbuh kumis!? Tentu akan banyak umur yang tersita di sini.
Nah, sebagai penutup, muncul pertanyaan lain. Apakah tulisan ini memiliki kesimpulan? Silahkan Tuan dan Puan simpulkan sendiri.
Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali...