Satu dari tiga dewan juri pada Aceh Film Festival (AFF) kali ini adalah saya, lelaki yang besar pada masa konflik bersenjata di Aceh. Juga satu di antara tiga orang dewan juri yang tidak memiliki rekam jejak dalam dunia perfilman sama sekali.
Bukan hanya itu, bahkan yang lebih parah lagi adalah bahwa saya sebenarnya tidak begitu suka terhadap film selain film perang-perangan. Maklum, sedari kecil saya sudah tertarik pada film berlatar perang.
Mungkin juga tidak ada yang tahu, bahwa asal muasal saya berkecimpung dalam dunia komunikasi visual adalah karena kecintaan saya terhadap perang. Ya, perang telah mengajarkan saya untuk menggambar. Suasana perang dan segerombolan orang bersenapan adalah yang paling biasa saya gambar saat itu.
Dulu saya bahkan pernah ingin menjadi salah satu di antara yang ikut berperang melawan pasukan pemerintah. Tapi mungkin tuhan berkata lain. Sebelum saya sempat membunuh atau mungkin terbunuh, saya seperti tercabut dari arena tersebut. Itu terjadi setelah waktu yang paling menegangkan dalam hidup saya. Mungkin suatu saat saya akan menceritakannya.
Singkat cerita, dunia gambar menggambar yang dihadirkan oleh kejamnya perang sungguh memiliki andil yang besar dalam dunia saya saat ini. Ia pula yang telah mengantarkan saya hingga ke Yogyakarta dan bisa belajar lebih jauh tentang seni visual.
Maka jangan salahkan saya, jika dalam melihat dan menyelesaikan berbagai persoalan kerap menggunakan pendekatan tempur. Ya, saya memang terlanjur cinta dengan dunia pergerakan dan cenderung menggunakan cara-cara nekat (baca: nekat Aceh).
Menjadi juri dari festival film kali ini, saya pun masih menjadi orang yang sama, yaitu sebagai anak dari perang Aceh, yang akan menggunakan estetika perang sebagai senjata untuk merobek bagian tubuh dari sebuah karya. Jika sebuah karya tidak seperti musuh yang paling menakutkan, yang bisa membuat detak jantung saya berdegup kencang, maka hati-hati, kemungkinan karya seperti itu akan saya pandang sebagai buatan pecundang.
Merupakan sebuah tantangan bukan? ya, terutama bagi saya pribadi. Bagi mereka yang membuat masalah melalui karya film, kemungkinan akan menjadi cobaan berat. Perang memang begitu, kawan. Jika kamu tidak siap, tidak dapat direset ulang.
Tentu persoalan perang seperti telah selesai di Aceh, terutama setelah nota kesalahpahaman (MoU Helsinki) diteken. Namun saya rasa tidak dengan sarapan, seperti yang dihadirkan lewat medium-medium seni. Perang masih tetap menjadi menu yang paling digemari. Seperti halnya film "Night Bus" yang akan diputar besok malam di Taman Budaya Banda Aceh.
Oh ya, juga sebuah film yang berjudul "Marlina sipembunuh dalam empat babak" yang sedikit adegan dalam film tersebut telah saya anjurkan untuk dipenggal, karena dapat mengganggu adegan kekerasan (baca: tebas leher).
Akhirnya, sekian dulu Lempap! Salam perdamaian dan salam "Refleksi" dari tanah yang pernah berkubang darah kotor bangsa penjajah.