Tentang Kata yang Suku Katanya
Dikurangi dan Kata Baku Tak Baku
Dalam sejarah kebahasaan di Indonesia, pernah ada satu masa di mana sejumlah kata yang fonemnya dinilai mubazir lalu disederhanakan atau dikurangi, sehingga jumlah suku katanya berkurang. Namun, pengurangan atau penyederhanaan itu tetap tak mengubah makna kata tersebut.
Dalam teks Sumpah Pemuda (Soempah Pemoeda) 28 Oktober 1928, misalnya, kita masih temukan dua kata yang kemudian dinilai mubazir itu, yakni (Kami) 'poetera-poeteri' (Indonesia)....
Nah, pada era ejaan Soewandi (19 Maret 1947), huruf oe yang sebelumnya dipakai dalam ejaan Van Ophuijsen (1901-1947) diubah oleh Soewandi selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI kala itu menjadi u, sehingga kata poetera-poeteri pun berubah menjadi putera-puteri. Kalau dieja berdasarkan suku katanya, maka jadinya akan seperti ini: pu-te-ra dan pu-te-ri. Masing-masing kata terdiri atas tiga suku kata.
Pada perkembangan selanjutnya, kata-kata bersuku kata tiga atau lebih ini mulai disederhanakan menjadi dua suku atau tiga suku kata saja. Itu terjadi saat Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) diresmikan Presiden Soeharto pada saat pidato kenegaraannya, 16 Agustus 1972.
Nah, sejak saat itulah kata putera pun resmi menjadi putra, puteri menjadi putri, isteri menjadi istri, samudera menjadi samudra. Kalau dipenggal, suku katanya menjadi lebih simpel: put-ra, put-ri, dan sa-mud-ra.
Tak banyak memang kosakata Indonesia yang mengalami penyederhanaan suku kata seperti itu. Di antara yang tak banyak itu, inilah dia, saya pulung dari berbagai sumber.
***
DULU ---------- SEKARANG
- bahagian - bagian
- ganderung - gandrung
- isteri - istri
- justeru - justru
- mantera - mantra
- putera - putra
- puteri - putri
- samudera - samudra
- Sumatera - Sumatra
- sutera - sutra
Selain itu, saya pilihkan juga kepada steemian sekalian senarai kata yang sering ditemukan dalam ragam cakap maupun ragam tulis yang sebenarnya bukanlah bentuk yang baku. Misalnya, gendrang, seharusnya genderang; cengkrama, seharusnya cengkerama; cendramata, seharusnya cendera mata; dan kadaluarsa, seharusnya kedaluwarsa.
TAK BAKU ------------ BAKU
- anugrah - anugerah
bahgia - bahagia
bahtra - bahtera
bahula - baheula
batre/batrei - baterai
belangko - blangko
beledru - beledu
blacak - belacak
blacan - belacan
blacu - belacu
bludak - beludak
brantas - berantas
bronjong - beronjong
- cari - cahari (khusus untuk mata
pencaharian) - cedra/cidera - cedera
- cendramata - cendera mata
- cendrawasih - cenderawasih
- cendrung - cenderung
- cengkram - cengkeram
- cengkrama - cengkerama
dulu - dahulu
- gendrang - genderang
jendral - jenderal
- kadaluarsa - kedaluwarsa
- klas - kelas
- kramat - keramat
lentra/lentara - lentera
- matrai - materai
- mentreng - mentereng
- moderen - modern
Perancis - Prancis
plat - pelat
plonco - pelonco
perangko - prangko
prang - perang
pribahasa - peribahasa
primbas - perimbas
- sandra - sandera
- sastera - sastra
- seludup - selundup
- sejahtra - sejahtera
- senderatari - sendratari (akronim)
- senderatasik - sendratasik (akronim)
- serigunting - srigunting
- semraut - semrawut
- stop - setop
- slalu - selalu
- srigala - serigala
rezki/rizki - rezeki
- tangker - tanker
- tapi - tetapi
- taubat - tobat
- tauladan - teladan
- tentra/tentera - tentara
- tentram - tenteram
- trampil - terampil
Demikianlah, semoga bermanfaat.
Banda Aceh, 4 Juni 2018
Saleuem,
YD
Pembina FAMe dan Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia