Tentang Kata-kata Tanpa Huruf H
Hingga kini masih sering saya temukan pengguna bahasa Indonesia yang mencantumkan atau menambahkan huruf h di dalam kata yang dia tulis atau ucapkan. Padahal, huruf h itu memang tak ada baik di awal, tengah, maupun akhir kata (contohnya imbauan, Asar, dan tablig. Namun, sebagian pengguna bahasa Indonesia justru menuliskannya menjadi himbauan, Ashar, dan tabligh. Dengan kata lain, h dimunculkan di awal, tengah, maupun akhir kata).
Kesalahan ini terjadi, antara lain, penulis atau penutur tak sangat menguasai bentuk baku dari kata-kata yang sudah menjadi entri di dalam KBBI, khususnya KBBI terbaru, edisi V terbitan tahun 2016.
Penyebab kedua, bisa jadi si penulis atau penutur sangat kekeh (ngotot) bertahan pada pelafalan bercorak Arab, Inggris, atau Belanda, sehingga ada kata yang sebetulnya tanpa h, ia tambahkan huruf h-nya. Misalnya pada kata andal (ditulis dan dilafalkan handal), kata batin (ditulis dan dilafalkan bathin), kata duafa (ditulis dan dilafalkan dhuafa), atau kata teknologi (dituliskan tekhnologi dan kerap dilafalkan tekhnolojie).
Semua itu adalah bentuk yang salah atau tidak baku. Jadi, jangan gunakan lagi. Kembalilah ke "jalan" benar kebahasaan.
Berikut ini saya sertakan daftar kata tanpa huruf h yang sering saya dapati dituliskan atau diucapkan salah oleh pengguna bahasa Indonesia.
Khusus beberapa kata yang jarang digunakan, tapi tetap salah tulis, saya sertakan arti katanya secara ringkas di dalam tanda kurung (...) agar mudah dipahami apa maknanya. Misal, kata damir (bukan dhamir atau dhamier), saya cantumkan di dalam tanda kurung artinya, yakni (perasaan terhalus atau yang paling halus).
Demikian saja, selamat membaca dan yang terpenting serius kita praktikkan dalam keseharian kita. Cintailah bahasa Indonesia dengan menggunakannya secara baik dan benar.
***
afdal, bukan afdhal
akil balig, bukan akil baligh
alfabet, alfhabet atau alphabet
ambal, bukan hambal
andal, bukan handal
Asar, bukan Ashar
asar, bukan ashar
ateis, bukan atheis
ateisme, bukan atheisme
bakti, bukan bhakti
batin, bukan bathin
bagian, bukan bahagian
bugat, bukan bughat (pemberontak)
Cina, bukan China
darma, bukan dharma
daif, bukan dhaif (lemah)
damir, bukan dhamir (perasaan terhalus)
duafa, bukan dhuafa
duha, bukan dhuha (salat sunat pkl 10.00)
empas, bukan hempas
fadilat, bukan fadhilah
fardu, bukan fardhu
gaib, bukan ghaib
geotermal, bukan geothermal
gibah, bukan ghibah (bergunjing)
hidrosepalus, bukan hidrochepalus
Sebuah pengumuman di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry. Masih menggunakan kata himbauan.
imbau, bukan himbau
imbauan, bukan himbauan
impit, bukan himpit
inci, bukan inchi
isap, bukan hisap
kabar, bukan khabar
karakter, bukan kharakter atau character
karisma, bukan kharisma
keki, bukan kheki (merasa tak senang)
la, bukan lha
laba-laba, bukan labah-labah
lo, bukan lho
maraton, bukan marathon
Magrib, bukan Maghrib
mubalig, bukan mubaligh
musala, bukan mushala atau mushalla
Contoh penulisan kata 'musala' yang tak standar pada sebuah kantor pemerintah di Banda Aceh.
noktah, bukan nokhtah
Ramadan, bukan Ramadhan
rida, bukan ridha
risi, bukan risih
saf, bukan shaf
sahih, bukan shahih
salat, bukan shalat
saleh, bukan shaleh
sila, bukan silah
silakan, bukan silahkan
siluet, bukan silhuet (gambaran menyeluruh)
Subuh, bukan Shubuh
subuh, bukan shubuh
tablig, bukan tabligh
taharah, bukan thaharah
talasemia, bukan thalassemia
tawaf, bukan thawaf
teknik, bukan tehnik
teknologi, bukan tekhnologi
telepon, bukan telephon atau telefon
tema, bukan thema
terapi, bukan teraphi
termometer, bukan thermometer
tesis, bukan thesis
utang, bukan hutang
wudu, bukan wudhu atau wudhuk
zalim, bukan dhalim atau dholim
Zuhur, bukan Zhuhur
zuhur, bukan zuhur
zenit, bukan zenith (titik puncak).
Awak FAMe tekun belajar menulis dan menjunjung tinggi bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan bahasa resmi negara.
Semoga semua Steemian atau kreator konten di platform istimewa ini terjaga terus kualitas bahasa Indonesianya.
Banda Aceh, 19 Mei 2018
Tertanda,
YD
Pembina FAMe dan
Redpel Harian Serambi Indonesia