Tulisan ini bukan maksud untuk menuding dokter atau pun menjelek-jelekan profesi dokter, tapi hanya untuk mengingatkan bahwa di mulut seorang dokter terdapat obat dan racun bagi pasiennya.
Mengapa saya katakan begitu? Karena belajar dari sebuah pengalaman Bibiku yang pernah mendapat racun dan juga obat dari perkataan seorang dokter.
Ceritanya begini, pada bulan Agustus tahun 2016 lalu Bibi didiagonsa mengalami kanker payudara. Sebelumnya dia sudah mencurigai bahwa itu gejala kanker, karena dia juga berprofesi sebagai bidan di Puskesmas. Ciri-ciri menunjukkan kanker sudah mengarah pada perubahan bentuk payudara yang ditandai dengan adanya benjolan tidak teratur di bagian payudara kanan.
Untuk memastikan itu, dia pergi ke salah satu praktik dokter onkologi (dokter kanker) di Banda Aceh. Sebut saja dokter A. Dia berharap dengan penjelasan dokter akan sedikit mengurangi beban pikirannya dan mendapatkan solusi pengobatan terbaik.
Sesampainya di praktik dokter A, Bibi diperiksa dengan dipalpasi bagian payudaranya. Dokter A langsung memvonis Bibi mengalami kanker dengan bahasa yang kurang enak untuk didengar. Tidak hanya itu, dokter tersebut juga menyalahkan kenapa baru sekarang dibawa dan tindakan selanjutnya harus operasi dan kemoterapi.
Mendengar penjelasan dokter, Bibi benar-benar terkejut. Pandangannya menjadi hitam, benda-benda di sekelilingnya terasa berputar, dan dia terduduk lemas tidak berdaya mendengar penjelasan dokter A.
Dengan air mata bercucuran dia keluar dari ruangan praktik tersebut. Semenjak itu Bibi menjadi pendiam dan frustasi dengan penyakitnya. Perkataan dokter tersebut telah menjadi racun bagi jiwanya sehingga kondisinya pun semakin memburuk.
Ilustrasi
Sebagai seorang yang berprofesi bidan, tentu tidak masalah mendengar diagnosa kanker tersebut, tapi karena penyampaian dokter tersebut yang terlalu frontal dan blak-blakan Bibi dijatuhkan oleh mentalnya bukan karena penyakitnya. Bagaimana kalau ini terjadi pada orang awam yang tidak mengerti tentang dunia kesehatan? Tentu mungkin lebih drop lagi mendengar penjelasan dokter tersebut.
Berduka
Bibi mengingkari kenyataan dari vonis yang disampaikan dokter A. Dia tidak mau melanjutkan pengobatan dan lebih memilih menggunakan obat tradisional. Dia begitu marah dan kesal terhadap dokter tersebut, bahkan dia benci melihat dokter.
Bibi mulai bertanya-tanya kenapa dia bisa terkena kanker, padahal pola hidupnya sehat. Dia sering mengeluh dan membandingkan dengan orang lain yang akihirnya menarik diri dari lingkungannya. Dia terus bergelut dengan perasaan sedih hingga pamanku begitu khawatir dengan keadaan istrinya.
Bibi memasuki tahap depresi dari proses berduka. Keadaannya cukup mengkhawatirkan, nafsu makannya menghilang, semagat hidupnya berkurang, dan bahkan pikirannya diracuni oleh bayang-bayang kematian.
Sakitnya pun tidak kian sembuh dan Paman menelponku bertanya apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi istrinya. Aku menyarankan Bibi untuk dibawa ke Banda Aceh lagi dan diperiksakan oleh dokter yang lain. Paman pun membawa Bibi untuk melakukan pemeriksaan ke praktik dokter B.
Dokter dan Obat di Bibirnya
Di Banda Aceh Bibi diperiksakan ke praktik dokter onkologi B. Awalnya Bibi menolak karena takut kejadian yang sama terulang lagi pada dokter A. Dia begitu trauma setiap kali mengingat pengalamannya bersama dokter A. Sehingga untuk datang ke praktik dokter B dibawalah semua anggota keluarga, suami, ibunya, adik ibunya, dan anaknya untuk memberikan dukungan kepadanya.
Rupanya dokter B tidak semenakut yang dia pikirkan. Orangnya ramah, wajahnya selalu dibalut dengan senyuman, gaya bicaranya lembut, dan penuh kayakinan. Dokter tersebut tidak langsung memvonis Bibi mengalami kanker, karena untuk mengetahui itu kanker atau bukan dan jenisnya haruslah ada uji patologis anatomis (PA) dengan cara biopsi.
Biopsi adalah pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi suatu penyakit tertentu.
Dokter tersebut menyuruh Bibi untuk datang ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUD ZA) untuk melaksanakan prosedur biopsi. Bibi masih bingung untuk mengambil keputusan, tapi dia sudah mulai menerima penyakitnya itu.
Besoknya Bibi dibawa ke RSUD ZA untuk konsul berikutnya, namun dia masih trauma dengan dokter A yang memvonisnya. Wajahnya pucat, tangannya dingin, dan terlihat seperti orang ketakutan saat ke RSUD ZA. Paman juga memintaku ikut mengantarkannya ke RS.
Bayangkan satu pasien ada lima orang keluarga yang menemaninya, lantaran begitu takutnya Bibiku mengahadapi dokter. Dia meminta untuk ditangani oleh dokter B saja dan ketika dia melihat ada dokter A di situ dia mengalami ketakutan yang luar biasa.
Begitu berbisanya racun yang diberikan oleh dokter A lewat perkataan mulutnya sehingga Bibi merasa ketakutan yang luar biasa.
Akan tetapi melalui dokter B Bibi mengikuti semua prosedur yang direkomendasikan dokter. Mulai dari biopsi untuk uji PA yang kemudian hasilnya Bibi menderita kanker stadium II. Kemudian dilanjutkan operasi, kemoterapi, sinar radiasi, hingga dinyatakan sembuh dari kanker.
Di tengah proses yang menghabiskan waktu hampir satu tahun itu, Bibi terus berkonsultasi dengan dokter B. Ketika Bibi mulai drop, dokter menyemangati dengan kata-kata penyemangat. Bahkan setiap kali Bibi konsul sang dokter memberikan senyuman di bibirnya yang menjadi obat bagi setiap pasiennya.
Tutur katanya pun sangat sopan dan lembut yang membuat pasien begitu yakin dengan dokter tersebut. Hingga saat ini Bibi selalu ditangani oleh dokter B.
Bibi yang setelah setahun menjalani pengobatan kanker dan sekarang sudah terbebas dari kanker
Rupanya sekarang dokter B sudah pindah ke Jakarta, banyak pasien merasa kehilangan dengan dokter yang murah senyum itu. Termasuk Bibi yang merasa nyaman saat konsul dengan dokter B.
Sekarang hanya ada dokter A yang menangani kasul onkologi, mau tidak mau Bibi harus konsul ke dokter tersebut. Sampai sekarang Bibi masih ketakutan berhadapan dengan dokter tersbut apalagi ketika mengingat pengalaman pertama yang tidak menyenangkan bersama dokter tersebut.
Itulah yang aku sebut bahwa seorang dokter itu bisa jadi obat atau racun di mulutnya bagi pasien-pasiennya. Jadi, bagi kamu yang berprofesi dokter harus memahami itu, tidak hanya mengobatinya melalui obat-obatan, tatapi juga perkataan.