PERNAHKAH terpikir olehmu kenapa Kartini lebih dikenal dunia, dibandingkan perempuan pejuang sebelum dia? Kenapa Kartini yang lebih dulu disebut pahlawan, ketimbang Cut Nyak Dien atau Laksamana Keumala Hayati yang langsung berperang? Kenapa Kartini yang usianya hanya 25 tahun selalu dikenang dan dijadikan sebagai ibu pertiwi? Dan kenapa pula setiap tanggal 21 April ditetapkan sebagai Hari Kartini yang menjadi pelopor kebangkitan perempuan pribumi?
Sebagian orang yang kontra terhadap Kartini menganggap semua ini tak pantas dan berlebihan, terhadap perempuan yang dibentuk oleh Belanda ini. Namun, begitulah kenyataannya sekarang bahwa kita lebih mengenal sosok Kartini, bahkan semenjak duduk di bangku sekolah dasar. Apalagi dengan adanya buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, hasil dari tulisan-tulisan Kartini membuat dirinya terus hidup sepanjang masa.
Lantas, apakah kita harus marah ketika Kartini lebih eksis dan sering diperbincangkan dibandingkan dengan pahlawan perempuan lainnya? Saya rasa itu semua karena Kartini menulis, makanya dia lebih dikenal walau dirinya hanya seperempat abad tinggal bumi. Kartinilah yang menceritakan bagaimana kondisi perempuan pribumi Indonesia pada zamannya, hingga muncul gerakan emansipasi wanita.
Andaikan Cut Nyak Dien dan Laksamana Keumala Hayati juga menuliskan kisahnya, saya yakin itu akan lebih hebat lagi dibandingkan wanita berdarah Jawa yang bernama Kartini. Sayangnya kisah perjuangan dua orang wanita dari tanah Aceh yang telah melakukan gerakan emansipasi itu, dikisahkan lewat tulisan tangan orang lain. Kisahnya pun banyak disamarkan dan terdapat beberapa versi yang berbeda sesuai dengan sudut pandang penulis sejarah.
Gerakan Menulis
Kelas Forum Aceh Menulis (FAMe) Pertemuan yang Ke-38
Bercermin dari apa yang dilakukan oleh Kartini, hendaknya kita menyadari betapa pentingnya menulis. Mungkin kita hanya hidup puluhan tahun di bumi, tapi dengan menulis kita bisa dikenal sepanjang masa karena tulisan itulah yang menghidupkan jiwa kita bagi para pembaca.
Pada era Kartini memang kegiatan menulis tidak bisa dilakukan oleh semua orang, apalagi bagi wanita pribumi yang sulit mengenyam bangku sekolah. Namun sekarang, akses untuk menulis sangatlah mudah bahkan siapa saja bisa asalkan mau untuk melakukannya. Apalagi dengan adanya wadah menulis seperti Forum Aceh Menulis (FAMe) yang hampir setahun sudah mewarnai literasi di Aceh, dapat dijadikan sebagai tempat untuk belajar menulis.
Forum yang dibuka secara gratis untuk umum ini diajarkan oleh guru-guru yang berkualitas, dari disiplin ilmu yang berbeda. Yarmen Dinamika sebagai pembina pun juga menghimpun orang-orang yang berilmu untuk mengajar secara sukarela, tanpa ada paksaan dan juga bayaran.
Hebatnya semuanya mau berbagi dari yang bergelar profesor dan doktor, penulis buku, novel, steemit, fotografer, sastrawan, sejarahwan, ahli geologi, dan juga juga psikolog mau mengajarkan cara menulis sesuai dengan keilmuan mereka masing-masing.
Menurutku inilah era kebangkitan gerakan menulis di Aceh sehingga yang menulis Aceh bukan lagi orang luar seperti Snouck Hurgronje dari Belanda, tapi anak Aceh sendiri. “Yang tahu tentang Aceh ialah orang Aceh sendiri” seperti yang dijelasakan Prof. Kamaruzzaman Bustaman Ahmad, Ph.D dalam bukunya Acehnologi. Dengan adanya penulis Aceh ini, khusunya bagi perempuan pamor Cut Nyak Dien dan Laksamana Keumala Hayati akan terlihat melalui tulisan perempuan Aceh, melebihi apa yang diperbuat Kartini pada massanya.
Mengapa Menulis?
Tahukah kamu apa yang ditulis Kartini melalui surat-suratnya berasal kegalauan yang dirasakannya pada saat itu? Dia menjelaskan bagaimana tertinggalnya perempuan pribumi Indonesia yang mengekang kehidupan perempuan. Cara yang dilakukan Kartini ialah menulis ekspresif dengan menuangkan emosi yang dirasakannya saat itu.
Penyampaian dari Dra. Nur Jannah Psikolog, M.M., CHt di kelas FAMe pertemuan yang ke-38
Ternyata menulis ekspresif menurut Dra. Nur Jannah Psikolog, M.M., CHt “Expressive Writting Technique; Sebagai Terapi Psikis” di kelas FAMe, menyebutkan bahwa menulis ekspresif dapat dijadikan terapi atau pengobatan untuk memulihkan psikologis. Sebab menulis ekspresif merupakan porses penuangan emosi yang melibatkan kerja otak dan motorik tangan dalam mengungkapkan perasaan yang dirasakan.
Ibarat sebuah gelas yang bila diisi terus menerus maka dia akan tumpah. Begitu juga dengan perasaan seseorang yang bila tidak disalurkan dengan baik, maka akan menumpuk menjadi beban psikologis. Menulis bisa menjadi saluran untuk menyampaikan beban perasaan, karena banyak karya yang hebat berasal dari keterpurukan penulisnya.
Kita bisa melihat karya Prof. Dr. Hamka yang berhasil menulis Tafsir Al-Azhar saat dia berada di dalam penjara. B.J Habibie yang menulis puisi setelah kepergian sang istri, hingga kisahnya dibukukan dan diangkat jadi film. Mereka menulis untuk mengekspresikan perasaannya sehingga mendaur ulang duka, menjadi energi positif.
Kartini pun juga melakukan hal yang sama semasa hidupnya, yaitu dengan menulis surat kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda membukukan surat Kartini. Buku itu diberi judul Door Duisternist tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya” dan diterbitkan pada tahun 1911.
Sampai sekarang pun kita masih bisa menikmati tulisan-tulisan yang dibuat Kartini, meskipun dia telah tiada lebih dari 100 tahun yang lalu. Oleh karena Kartini menulis, dia lebih dikenal oleh banyak orang dan juga dijadikan sebagai pahlawan nasional.
Tulisannya jauh melampaui usianya yang hanya 25 tahun. Begitulah kekuatan tulisan, tidak hanya bermanfaat bagi penulisnya saja, tapi juga orang lain yang membaca tulisan-tulisan tersebut. Semoga akan lahir perempuan penulis Aceh yang karyanya bisa berpengaruh bagi dunia, seperti yang dilakukan Kartini dalam memajukan perempuan pribumi Indonesia lewat surat-suratnya. Selamat Hari Kartini.