emang lagi syantik
hei sayangku
hari ini aku syantik
syantik bagai bidadari
bidadari di hatimu
Lirik lagu itulah yang terdengar olehku berasal dari kapal hias nomor urut 01.
Di kapal itu tedapat patung gajah putih lengkap dengan lakonan Sultan Iskandar Muda dan beberapa prajuritnya. Ada juga yang didandani mirip dengan tokoh wanita pejuang Aceh, Cut Nyak Dien.
Masing-masing pesertanya didandani mirip dengan tokoh pejuang masa lampau, seolah-olah mereka sedang berada di zaman kerajaan.
Namun, aku heran di boat yang megah itu diputar lagu kekinian dari Siti Badriah yang berjudul Syantik.
Padahal saat pertama aku mendatangi tempat Festival Krueng Aceh yang diadakan di Krueng Aceh, lagu Bungong Jeumpa diputar beralun-alun.
Suasananya benar-benar nampak ke Acehannya karena dilengkapi dengan pernak-pernik Aceh.
Namun, itu hanya sebentar karena lagu khas Aceh itu diganti dengan lagu Syantik. Ternyata buka boat itu saja yang menghidupkan lagu Syantik karena boat lain pun juga betah dengan lagu yang tidak ada hubungannya dengan tema festival itu.
Apakah mungkin karena kapal-kapalnya benar-benar syantik sehingga membuat Krueng Aceh terlihat syantik hari ini.
Meskipun itu benar adanya, tapi kecantikan itu terganggu oleh sampah-sampah yang mengapung-ngapung di atasnya.
Dua jam berlalu, aku juga tidak menemukan hal unik dari festival dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII ini.
Tidak ada narasi yang menjelaskan tentang boat hias itu dan bagaimana konsepnya. Yang terlihat olehku boat karet mesin milik Pangdam Iskandar muda bolak-balik membuat ombak krueng Aceh hingga airnya bergelombang-bergelombang sampai ke pinggir sungai.
Aku pun mulai bosan dan mencari lokasi lain untuk bisa menyaksikan boat hias itu. Rupanya panggung utamanya berada di depan Kodam Iskandar Muda, jadi aku tidak bisa menyaksikan pembukaan dan narasi yang diceritakan dari boat-boat hias itu karena aku berada jauh dari sumber suara.