Beberapa temanku mulai mempertanyakan tentang tulisannya yang tidak pernah dimuat di media massa, khususnya media cetak berupa koran. Di Aceh, koran yang masih bertahan sampai sekarang dan masih eksis yaitu Serambi Indonesia (SI). Namun, agar tulisan kita bisa nangkring di halaman opini atau pun budaya, butuh perjuangan dan usaha keras.
Mungkin inilah yang sedang dirasakan teman-temanku. Tulisan mereka tidak pernah diterbitkan di SI meskipun sudah beberapa kali mengirimkannya.
Memang sulit untuk menembus SI, karena setiap harinya sekitar 10 tulisan masuk ke email redaktur. Tulisan kita harus bersaing dengan tulisan-tulisan lainnya, karena redaktur akan memilih tulisan yang terbaik dan tentunya sesuai konteks kekinian, untuk diterbitkan di halaman SI.
Aku dulunya hampir putus asa, meskipun sudah banyak artikel yang kukirimkan, namun tidak kunjung dimuat juga di halaman SI.
Awal mulanya aku tertarik mengirimkan tulisan ke SI, karena dosen Bahasa Indonesiaku. Dia menantang para mahasiswa untuk mengirimkan tulisan ke SI. Tulisan yang berhasil terbit di halaman SI versi cetak, akan mendapatkan nilai A tanpa ujian.
Tentunya aku sangat tertarik pada saat itu, semangatku tiba-tiba meluap bagai api disiram bensin. Saat itu tahun 2011 dan kuliahku masih di semester 3. Aku mulai mengirimkan tulisan di SI, namun beberapa kali kukirimkan tulisanku tidak pernah muncul.
Mengirimkan Terus-Menerus
Aku berpikir apa yang salah dari tulisanku? Aku pun mulia belajar dengan membaca opini-opini yang dimuat di SI, dari gaya bahasanya, polanya, pembahasannya, sampai jumlah karakter yang digunakan. Aku pun juga mulai mengikuti beberapa pelatihan menulis. Di mana ada pelatihan menulis, baik berbayar atau pun tidak, pasti ada aku.
Hingga suatu hari aku mengikuti pelatihan menulis yang diadakan oleh Ikatan Mahasiswa Banda Aceh. Kebetulan saat itu pematerinya ialah yang saat ini menjadi teman baikku. Tapi, dulunya aku tidak mengenalinya yang kutahu dia adalah awak media yang bekerja sebagai jurnalis di The Atjeh Post.
Aku bertanya kepadanya kenapa tulisanku tidak pernah dimuat di media massa, padahal aku sering mengirimkannya? Kalimat yang kuingat sampai saat ini sebagai jawabannya ialah;
Teruslah menulis dan kirimkan tulisanmu ke media massa sampai redakturnya muak melihat tulisanmu, hingga akhirnya mereka akan menerbitkan tulisanmu.
Semangatku benar-benar terpacu saat itu, hingga aku berkomitmen untuk mengirimkan satu buah tulisan setiap minggunya.
Aku mengirimkan tulisan di malam Kamis, berharap tulisanku muncul di hari Sabtu rubik opini yang biasanya dikhususkan untuk mahasiswa.
Selama setahun aku rutin mengirimkan artikel yang berbeda setiap minggu, 4 buah selama sebulan dan 4 x 12 = 48 buah artikel selama setahun, hampir sebanyak itu tulisan yang kukirimkan, satu pun tidak ada yang dimuat.
Haruskah aku menyerah? Tidak, aku tetap mengirimkannya sesuai dengan komitmenku.
Tulisan Pertamaku
Aku hampir putus asa saat itu dan berpikir bahwa tulisanku memang jelek, sehingga tidak layak untuk diterbitkan di halaman SI. Akan tetapi, aku teringat kembali dengan kalimat yang memotivasiku untuk terus menulis, hingga pada Rabu, 22 November 2012 aku ditelpon oleh pihak SI yang menyatakan tulisanku akan diterbitkan, pada edisi Kamis, 22 November 2012.
Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku meloncat-loncat kegirangan setelah menerima telpon itu, hingga teman-temanku keluar dari kelas yang saat itu sedang ada matakuliah.
Aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya, karena setelah perjuangan panjang selama setahun lebih, akhirnya tulisanku layak diterbitkan di SI. Teman-temanku mengucapkan selamat kepadaku, ucapan itu semakin banyak ketika besoknya tulisanku benar nangkring di halaman opini SI dengan judul Kesaksian Derita Palestina dengan Yelli Sustarina penulisnya.
Tulisan Berikutnya
Di bulan berikutnya tulisanku muncul lagi, dan bulan berikutnya, lagi dan lagi. Tulisanku sudah mulai diperhitungkan untuk terbit di halaman SI. Hampir setiap bulan ada saja tulisanku yang nangkring di halaman SI.
Aku selalu menempelkan di dinding kamar kost, setiap kali tulisanku terbit di SI
Biasa tema nya berkaitan dengan kesehatan sesuai dengan backgroundku dari jurusan keperawat. Aku juga pernah menulis tentang politik yang berjudul Pesta Pengukuhan Wali VS Jeritan Hati Rakyat.
Tenyata tulisanku banyak mendapat kritikan bahkan teror setelah tulisan itu diterbitkan. Itulah yang membuatku tidak mau lagi menulis hal yang berhubungan dengan politik. Lain kali akan kuceritakan tentang hal ini.
Jadi, buat teman-temanku yang baru beberapa kali mengirimkan tulisannya ke SI dan tidak diterima, jangan berkecil hati. Cobalah terus mengirimkan tulisannya karena menulis tidak pernah rugi. Semakin sering kita menulis, maka semakin mahir kita merangkai kata hingga tulisan kita enak untuk dibaca.
Bagi teman-teman yang ingin tahu bagaimana menulis di media cetak, bisa baca tulisanku tentang Tips Menulis Opini Tembus Media Cetak, dari Redaktur Serambi Indonesia.
Kliping dari tulisan-tulisanku, aku kumpulkan di sini
Inilah beberapa tulisanku yang pernah dimuat di halaman opini Serambi Indonesia, dari tahun 2012-2016.
- Air dan Kampanye Pemilu
- Antara Tsunami Aceh dan Jepang
- Tolak Naik BBM, Haruskah Demo
- BBM Naik ‘Sakitnya Tuh’ di Rakyat
- Bencana dan Kearian Lokal
- Budaya Salam
- Budaya Cuci Tangan Pakai Sabun
- Demam Batu Giok
- Hidup Sehat Saat Berpuasa
- Kesaksian Derita Palestina
- Kartini Masa Kini
- Sehat di Usia Lanjut
- Ketulusan Ibu
- Menjaga Bahasa Aceh
- Makanan dan Pengawet Berbahaya
- Menyoal Gangguan Jiwa
- Peduli Kesehatan Jiwa
- Pedofilia Mengancam Anak Aceh
- Pentingnya Informasi Kesehatan
- Pesta Pengukuhan Wali Nanggroe VS Jeritan Hati Rakyat
- Puasa dan Tidur
- Perempuan Aceh Hebat
- Pencegahan Faktor Penyakit
- Save Palestina
- ‘Tiep Uroe’ Hari Ibu
- Thalasemia Han Sep-sep Darah
- Waspadai Gangguan Jiwa