Wisuda adalah satu moment yang paling membahagiakan bagi keluarga kami. Teringat dua tahun yang lalu, ketika gelar sarjana itu di sematkan, saya bisa melihat sebuah senyum kelegaan yang merekah di wajah bapak dan ibu. Sebuah senyum yang tak pernah saya lihat akhir-akhir ini. Senyum yang teramat sangat saya rindukan akan hadir kembali pada tahun ini.
Tulisan ini saya persembahkan untuk satu-satunya adik perempuan saya, Kiki. Seseorang yang paling pintar di keluarga kami. Seseorang yang sekaligus paling cengeng dan meluap-luap segala emosinya. Seseorang yang terkadang ingin terlihat kuat meski terlahir sebagai anak bungsu. Darinya, saya seperti bisa melihat cerminan diri saya sendiri. Seorang adik yang kini tengah berjuang demi janji masa depan yang lebih baik, skripsi.
Dik, tahukah engkau hampir setiap malam bapak dan ibu selalu menanyakan pertanyaan yang sama pada kakakmu ini, "Kapan Kiki pulang ke rumah? Kapan Kiki wisuda?"
Sebuah pertanyaan yang pada akhirnya hanya berhenti pada kakakmu ini. Pertanyaan yang tak berani saya sampaikan, karena takut membuat konsentrasi belajarmu berkurang. Karena pertanyaan ini juga pernah menjadi sebuah beban dalam diri saya terdahulu.
"Kiki sebentar lagi lulus pak, paling tahun ini," begitulah jawab saya menjadi orang yang seolah paling tahu, hanya untuk menenangkan gemuruh di hati bapak dan Ibu.
Skripsi itu memang menyebalkan. Dari semua mata perkuliahan kenapa harus ada skripsi. Saya juga pernah merasakannya. Betapa dahulu saya ingin mengutuk dengan mata kuliah yang satu ini.
Namun dik, lewat skripsi yang merepotkan ini kau diminta untuk mempertanggungjawabkan semua yang telah engkau pelajari. Dari skripsi, kau belajar berjuang bahwa kuliah itu tak mudah, namun juga tak sesulit yang kau bayangkan.
Entah berapa jam dalam sehari kau disibukkan dengan buku-buku tebal, membacanya berulang kali untuk membantumu membuat sebuah naskah. Lalu kau malah melihat dosen pembimbing mencoret-coret naskah yang telah kau buat hingga larut malam itu. Jangan menyerah dik, karena itu semua dilakukan demi menyempurnakan karya terbaikmu.
Perjuangan yang juga pernah dilalui bapak dan ibu. Bukan berjuang lewat skripsi. Kau juga tahu bapak dan ibu tidak pernah duduk di bangku perkuliahan. Tapi perjuangannya lebih berat daripada itu, yaitu bisa membawamu sampai ke perguruan tinggi. Entah sudah berapa banyak keringat dan air matanya yang telah tercurahkan.
Dik, ada satu hal yang tak boleh kau lupa. Sebuah nasehat saat kakakmu ini tak berhasil lolos jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Karena kau tahu sendiri bagaimana kapasitas otak kakakmu ini. Bapak tak henti menguatkan untuk mencoba jalur masuk yang lain. Tidak ada kata menyerah sebelum mencoba kembali.
"Bapak tidak pernah kuliah, tapi Bapak pengen anak-anak bapak bisa kuliah, bisa menjadi orang yang sukses" kata Bapak menguatkan.
Mendengar hal demikian, bagaimana tidak teriris hati kakakmu ini dik? Saya harap hal yang sama juga dapat kau rasakan. Sehingga kau tak boleh larut dalam kekecewaan.
Saat dosen pembimbing menolak naskahmu. Ketika kau harus mengulang penelitianmu. Kau juga tak boleh berkecil hati apabila temanmu diberi kesempatan untuk lulus terlebih dahulu. Karena kau tak pernah tahu apa yang telah diperjuangkannya. Dari sana kau bisa belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan. Namun bukankah Allah menguatkan lewat firman-Nya,
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (Q.S Al Insyirah : 5-8).
![image](
Teruslah berjuang adik tersayang. Jangan lupa untuk melibatkan Allah dalam setiap persoalan. Panjangkan lagi doa-doamu seusai sholat. Karena sekali lagi, kakakmu ini sudah tidak sabar untuk melihat senyum itu lagi diwajah bapak dan ibu.