
Sumber
Melonjaknya angka kriminal bukan hanya menjadi masalah di Ibu Kota Jakarta. Kota-kota lain di luar negeri juga mengalami persoalan serupa. Banyak tindakan pencegahan yang kemudian dikampanyean oleh aparat berwenang untu mencegah melonjaknya angka kriminal ini.
Selain itu polisi juga menggelar operasi khusu untuk memburu para pelaku serta mempersempit ruang gerak bagi pelaku.
Namun upaya polisi di sebuah kota di Filipina juga menarik untuk dicermati. Mereka meminta para wanita di sana untuk menghindari mengenakan pakaian minim guna menghindari kasus perkosaan. Tapi seruan ini justru memicu kemarahan warga.
https://media.gettyimages.com/photos/female-protesters-march-on-the-streets-of-manila-on-independence-day-picture-id971974024
Mereka justru menuntut agar polisi membatalkan saran anti-perkosaan yang menyalahkan korban. Padahal merujuk pada filosofi kriminal, semua sepakat bahwa kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat, tetapi karena ada kesempatan. Kesempatan itu bisa saja timbul di kepala pelaku, ketika melihat wanita seksi dengan pakain minim di lokasi yang sepi.
Polisi di Filipina juga menyarankan para wanita jangan minum alkohol saat berkencan. Wanita pun diminta untuk belajar bela diri, membawa gas air mata atau semprotan lada dan tidak berjalan sendirian dalam kegelapan.
Kepala polisi Filipina berusaha mengecilkan kontroversi mengenai pemerkosaan itu. Mereka (wanita) memiliki sendiri, mereka hanya harus melakukan tindakan pencegahan dan mungkin juga berpakaian sesuai dengan tempat, katanya.
Dia mengatakan kasus-kasus perkosaan nasional turun 29 persen dari tahun sebelumnya dalam tiga bulan pertama 2018.


