Terpuruknya harga tukar rupiah dengan dolar Amerika sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa Negara ini akan bernasib saba dengan Venezuela. Negara yang terletak di ujung utara Amerika Selatan ini dinyatakan bangkrut.
Penyebabnya beragam. Namun kini untuk membeli seekor ayam saja, warga Venezuela harus merogoh koceknya hingga 15 miliar. Dana Moneter Internasional atau The International Monetary Fund (IMF) memprediksi angka inflasi di Venezuela bisa mencapai satu juta persen pada 2018 ini.
Nah bagaimana dengan rupiah? Apakah pemerintah bisa menjaganya dari gempuran dolar Amerika? Pemerintah Indonesia, kini terus berjuang menyelamatkan rupiah yang keok terhadap dolar.
Seorang pengamat, Shuli Ren, menulis Indonesia seringkali terinfeksi virus apapun yang menghinggapi pasar negara berkembang. Menurutnya, persoalan terbesar perekonomian Indonesia adalah kebergantungan yang tinggi terhadap dana asing untuk membiayai defisit anggaran. Saat ini kepemilikan asing pada obligasi pemerintah mencapai 40% pada 2017, dari 33% pada 2013.
Situasi ini bertambah runyam menyusul besarnya utang korporasi dalam bentuk mata uang asing di tengah kuatnya nilai tukar dolar AS. Akibatnya Rupiah rentan terhadap perlemahan.
Hal ini diakui oleh Presiden Joko Widodo dalam komentarnya yang dimuat di situs milik Sekretariat Negara. Ada dua kunci, investasi harus meningkat dan ekspor juga harus meningkat supaya kita bia menuntaskan defisit saat ini, kata Presiden.