Semua kita tentu punya cita-cita baik untuk kehidupan pribadi maupun kehidupan kebangsaan, yang isinya merupakan sebuah kondisi mulia, bahagia dan dapat hadir bermanfaat bagi diri sediri serta orang lain.
Saat kita masih kecil, pertanyaan yang sangat sering ditanyakan guru atau orang dewasa lainnya adalah adek cita-citanya apa..?. Dan tentu jawaban kita melekat pada profesi yang kita anggap mulia seperti dokter, guru, tentara, pilot dan lain-lain. Begitulah saat kecil motivasi dimunculkan sebagai cita-cita agar sedari dini hidup kita terarah pada hal-hal baik sebagai bentuk masa depan kita.
Pada saat dewasa kita baru tersadar bahwa untuk mendapatkan cita-cita sungguh tidak mudah, bertahan atas tidak melakukan kecurangan dalam meraih cita adalah tindakan yang harus kita lakukan sebagai bukti iman selalu bersama kita dalam meraih cita-cita. Menolak dengan kuat praktek sogok, nepotisme dan kolusi yang menari-nari di depan mata merupakan upaya menjaga kemurnian cita-cita yang telah kita tanam sejak kecil.
Teman steemian, mari kita merenung sejenak bahwa cita-cita tidak akan menemukan jalan dengan kecurangan karena cita-cita akan menghampiri kita dengan pengorbanan dan ketekunan. Cita-cita tidak hanya akan diraih hanya karena penampilan tapi cita-cita akan menyergap anda karena kita memiliki otak cerdas dan rendah hati, cita-cita akan masuk ke kehidupan kita dengan perjuangan dan keteguhan hati kita mempertahankan kebenaran. Dan cita-cita khusus hanya dapat tumbuh dan menetap di hati yang terus berdoa serta bersyukur kepada Ilahi Rabbi.
Sudahkah hari ini kita bertanya pada hati kita, apa cita-cita kita....? Tanyakan kedalam hati kita. Dapat dipastikan bahwa jawabannya adalah kita tidak pernah ingin menjadi pengedar narkoba, perampok, penipu, koruptor dan panjahat lainnya karena itu bukanlah cita-cita kita. Jika begitu maka jangan pernah menyerah untuk memastikan usaha-usaha kita saat ini tetap bersih sebagaimana cita-cita kita saat kecil.