Ada yang bilang figur ‘Perempuan’ merupakan sosok lemah. Itu tidak benar dan itu bohong! Dalam kehidupan saya, orang paling berjasa adalah ‘wanita’, tokoh tanpa pamrih selalu merawat saya tanpa mengeluh. Bahunya selalu ada, disaat saya lemah, membutuhkan sandaran. Itulah Ibunda ku, beliau merupakan; “ibu, ‘sekaligus ayah bagi ku”.
Namanya Junaiti, kelahiran Desa Terbangan, Kecamatan Pasie Raja, Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh. Usai berpisah (cerai) dengan ayah saya (1995), Ibu memboyong saya bersama saudara kandung abang (Dedek Saputra) menetap pada kediaman kakaknya, di Lhok Bengkuang, Aceh Selatan.
Saat itu; sedih, frustrasi, hancur lebur, terasa bercampur aduk menjadi satu! Usia saya hampir tiga tahun, tapi mengapa keadaan menuntut saya harus terlalu cepat dewasa, empati keperihan ibu, kala itu. Kecewa tersirat diwajahnya, tak berlangsung lama. Beberapa hari saja, beliau mampu ceria dan beradaptasi dengan lingkungan baru.
Memenuhi kebutuhan kedua anaknya, ibu rela membanting tulang menjadi ‘penatu’ mencuci pakaian 10 orang sekaligus, dari beberapa rumah. Padahal tarif bayaran perbulan tidak terlalu tinggi, masih Rp 5 ribu rupiah perorang. Tapi saya dan abang, tidak pernah mengalami keluhan kekurangan jajan, maupun makanan. Ibu kami, si perempuan tangguh yang menjadi tulang punggung keluarga.
Teringat benar historis itu. Abang saya mulai duduk di bangku sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Meskipun hanya memiliki ibu, kebutuhan sandang pangan kami, tak kekurangan, tanpa keluhan.
Teringat benar dengan kenangan masa itu! Setiap ayam jantan mulai berkokok, saya yang masih kecil, selalu tak ingin ketinggalan dengan ibu, bangkit dari tempat tidur, bergegas menemaninya menapakkan kaki, menuju beberapa rumah untuk menyuci dan menyetrika pakaian orang.”Ibu ku, ‘perempuan sangat tangguh!”.
Setiap ia menyuci, maupun menyetrika pakaian, saya selalu tetap berusaha berada di sampingnya, hanya berharap dapat membantu, saat ada panggilan meminta ‘tolong’ mengambilkan sesuatu. “rasanya aku sangat rindu, ‘panggilan minta tolong itu lagi”.
Rekaman tatapan yang paling berkesan, teramat sulit terlupakan dari memori benak otakku ini, setiap tangannya bulak-balik tanpa henti menyikat baju bernoda, ada terlihat keringat satu persatu menetes mengalir jatuh melintasi keningnya, tapi tangannya, tetap saja tidak mau berhenti sejenak untuk beristirahat.
Tak adapun, satu ucapan keluhan letih keluar dari mulutnya. Hanya sekali-kali, ia menggunakan pergelangan tangan berupaya mengusap. ”Aku masih teringat itu, meskipun saat aku bermain kapal-kapalan air, aku selalu setia duduk maupun jongkok di bagian samping depannya, hanya menunggu panggilan ‘minta tolong”.
Empat tahun kemudian, ibu kembali menikah dengan seorang pria bijaksana, bernama Junaidi asal Kabupaten Bireun. Saya bahagia ketika melihat dirinya kembali ceria! Saya mendapatkan lima orang adik baru yang lucu-lucu. Ibu tetap menjadi sosok tangguh dimata saya, sebagai perempuan tangguh. Ia kembali tak pernah berhenti membantu suami, turut mengelola dua rantai lahan kosong untuk bercocok tanam palawija.
Usai dewasa, saya berpamitan merantau ke Meulaboh, sementara abang memilih pindah menetap di kediaman nanek (ibu ayah) Kabupaten Nagan Raya. Walaupun kami telah berjarak antara Meulaboh – Aceh selatan, sosok ibu tetap selalu dekat di hati.
Suasana kerinduan dapat saja tiba –tiba mencair, dimanapun, kapanpun, dalam kondisi apapun. Apalagi saat tiba-tiba terdengar lagu hit daerah Aceh Ramlan Yahyah berjudul “Poma”. Dalam seketika saja, saya bisa larut dalam kenangan tempo dahulu, ketika masa-masa kecil selalu ada untuk menemani ibu. Ibu, dirimu tetap menjadi sosok perempuan tangguh yang paling berjasa dalam hidupku! DEMIKIAN CERITA SINGKAT SOSOK IBU BAGI SAYA. WASSALAM….