Departemen agama Arab Saudi mengabarkan, Guru besar Astronomi ITB,kepala Lapan tim ahli Depag Arab Saudi, Prof Dr Thomas Djalaluddin ,
Bahwa hari wukuf jatuh pada tanggal Senen 20 Agustus dan Idul Adha disana jatuh pada tanggal selasa 21 Agustus, sementara pemerintah Republik Indonesia telah menetapkan pada tanggal 22 Agustus
Tepatnya hari Rabu berdasarkan sidang isbad bagaimana menyikapi perbedaan tersebut,
Pertama kita menghargai keputusan Arab Saudi berdasarkan hasil rukyat mereka,secara syar'i sah,namun secara astronomis boleh dipermasalahkan ketinggian hilal di Arab Saudi hanya 2 derajat hillal yang sangat tipis karena sangat dekat dengan matahari tidak mungkin mengalahkan cahaya senja (cahaya syafak) dengan camera dan teleskop yang sangat sensitif pun belum ada bukti kesaksian hillal yang sangat rendah tersebut .
Kedua di Indonesia telah disepakati bahwa Idul Adha tidak mengikuti ketetapan Arab Saudi tetapi mengikuti ketetapan awal dzulhijjah bukan merujuk tempat wukuf di Arafah,
Haramkah puasa Arafah saat Arab Saudi merayakan Idul Adha waktu ibadah di tentukan secara lokal baik sholat maupun puasa maka tidak perlu bimbang untuk melaksanakan shaum Arafah di Indonesia Indonesia pada Selasa 21 Agustus kita hargai pendapat yang berbeda ibadah di dasarkan pada keyakinan,silahkan pilih.