Benar. Judul ini merupakan jiplakan dari judul cerpennya Ernest Hemingway yang kesohor itu; The old man and the sea. Aku memilih kata jiplak sebab ia adalah pengakuan yang apa adanya, yang lebih jujur, ketimbang menggunakan diksi sok-sok-an semacam; terinspirasi, yang ketika menggunakannya seolah judul ini lahir begitu saja - tidak ada silang mengilang dengan realitas sekitar- seumpama wahyu atau ilham yang diturunkan belaka oleh Tuhan.
Tapi tunggu sebentar, itu rasanya bukan awalan yang baik untuk tulisan ini. Sodara-sodara mungkin belum menangkap konteksnya. Jadi abaikan saja muqaddimah tadi dan mari kita mulai dari awal. Oh ya, kata salah satu kawan dari kawannya kawanku, sebagai pemula di rimba dunia perstemian, aku mestilah memperkenalkan diri dahulu sebagai tanda bahwa kita adalah orang-orang yang berkeadaban dan bermoral. Terutama sekali dalam bagaimana menghormati tetua-tetua steemit yang sudah lebih dulu merasakan asam manis pahit getirnya belantara steemit. Kepada kalian ahlussteemit wal steemian, mohon petunjuk dan arahan, khususnya tentang adab-adab meraih vote.
Baiklah, sesuai akte kelahiran; saya Miswar, namun akan saya traktir makan-minum plus bantuan darurat lainnya jika sodara-sodara berkenan memanggil saya dengan nama Miswar Ibrahim Njong. Sehari-hari beraktivitas sebagai kuli tinta di sebuah instansi pemerintahan. Dan sepakbola dan membaca sebagai minat utama. Barangkali sekian, akhirul kalam, judul di atas tidak ada kaitannya sama sekali dengan tulisan ini (meski corat-coret ini tidak layak disebut sebagai sebuah tulisan). Tentang The old man and the kitchen merupakan sebuah penghormatan kepada Pane Amroe... Yang barangkali lebih afdhal saya tulis di episode berikutnya. Saleum.