Saleum Meuturi
Ini adalah postingan pertama saya sejak bergabung di steemit empat bulan silam. Postingan ini hadir ketika dosen dan teman-teman saya kerap “meneror” dengan pertanyaan dan pernyataan: kapan memulai nulis di steemit? Jaman now gak nulis di steemit? Penulis kok gak nulis? Belum lagi aksi “pamer” wallet berisikan dolar yang didapatkan dari berkah steemit ini dengan tujuan untuk memancing rasa iri saya. Haha...
Baiklah. Perkenalkan, saya Asmaul Husna. Asli dari Tanah Pasai, tanah yang direkam sejarah sebagai tempat masuknya Islam pertama di Asia Tenggara. Saat ini saya baru saja menyelesaikan studi di Jurusan Ilmu Komunikasi, Universitas Sumatera Utara (USU). Saya adalah seorang penulis. Saat ini sudah menerbitkan puluhan artikel di media cetak, Serambi Indonesia. Selain itu, beberapa tulisan saya juga sudah dibukukan bersama penulis lainnya dalam buku “Bunga Rampai Demokrasi Aceh” dan Parnas Vs Parlok”.
Genre tulisan saya memang sedikit berat. Saya kerap menulis tentang isu politik, sosial-budaya, pendidikan, dan juga fokus pada isu kerusakan lingkungan. Menjadi penulis opini adalah sesuatu yang tidak pernah terlintas sebelumnya. Dulu ketika masih duduk di bangku SMP, saya adalah orang yang sangat menyukai sastra. Buku-buku terbitan Balai Pustaka seperti: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Salah Asuhan, Katak Hendak Menjadi Lembu, Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Roma, dan sederet buku satra klasik lainnya sudah khatam saya baca sejak SMP. Saat itu saya juga sangat suka menulis puisi.
Karena kecintaan saya pada dunia sastra, saat itu saya membayangkan bahwa saya akan menjadi seorang novelis. Menerbitkan novel dan juga buku puisi. Namun terkadang, kenyataan memang tidak seperti yang dibayangkan. Nyatanya, hari ini saya malah menjadi seorang penulis artikel, jenis tulisan yang kala itu bahkan saya belum tahu wujudnya. Sedangkan sastra, sampai saat ini belum ada satu pun cerpen yang dimuat di media. Menyedihkan. Kecuali beberapa puisi yang sempat duduk manis di Serambi Indonesia. Selebihnya saya hanyalah penikmat sastra. Walau dulu sempat terbayang akan menjadi novelis, namun sekarang saya menikmati menjadi seorang penulis artikel.
Sebagai seorang penulis, saya mencintai literasi. Untuk membumikan literasi di Aceh, saat ini saya tergabung dalam sebuah Forum Aceh Menulis (FAMe), di mana saya menjadi Koordinator FAMe Chapter Lhokseumawe. Forum yang terdapat di beberapa titik kabupaten di Aceh itu adalah sebuah forum yang fokus untuk membumikan literasi, terutama dunia penulisan. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari dosen, mahasiswa, guru, teungku (ustaz), tenaga kesehatan, bahkan ibu rumah tangga. Forum yang terbuka untuk umum ini selalu menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya. Baik itu bidang penulisan, maupun fotografi. Menariknya, di forum ini, peserta dan pemateri sama-sama tidak membayar dan juga dibayar. Ilmu dan waktu yang dibagikan adalah bagian dari wakaf diri untuk membumikan literasi.
Selain aktif di dunia penulisan, saya juga aktif sebagai relawan di sebuah gerakan sosial di Aceh Utara yang bernama “Cet Langet Rumoh.” Gerakan yang diinisiasi oleh Edi Fadhil ini adalah sebuah komunitas yang bergerak di bidang pembangunan rumah dhuafa yang berasal dari sumbangan jamaah facebook. Tidak hanya itu, komunitas ini juga secara aktif menyalurkan bantuan modal usaha bagi masyarakat miskin, beasiswa bagi anak yang putus sekolah, menyalurkan zakat dan waqaf Alquran, hingga pembangunan sekolah di wilayah pedalaman Aceh.
Inilah sekilas tentang diri saya. Sampai “jumpa” di postingan berikutnya.
Salam hangat dari Tanah Pasai