أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم
Audzubillahiminasyaitonirrajim bismillahirahmanirahim
Banyak hadits menyebutkan bahwa Rasulullah Saw memerintahkan agar membiarkan (tidak mencukur) jenggot. Diantaranya hadits:
ُم َح َّم ُد ْب ُن ِم ْن نَا َحَّدثَ ِن ُع َم َر َع ِن النَّ َع ِن ا ْب ٍ ِن َز ْيٍد َع ْن نَافِا نَا ُع َم ُر ْب ُن ُم َح َّمِد ْب َحَّدثَ ٍ نَا يَِزيُد ْب ُن ُز َر ْيا ٍل َحَّدثَ ِ ِى َها ب - صلى هللا عليه بَ َض َعلَى لِ ْحيَتِ ِه ، َم َر قَ ِو ا ْعتَ َ ا َح َّج أ ِر َب « . َو َكا َن ا ْب ُن ُع َم َر إِذَ ْحعُوا ال َّش َوا َ َحى ، َوأ ِ ُروا الِل ُم ْشِر ِكي َن ، َوف ل ْ ا َل » َخاِلعُوا ا وسلم - قَ َ َخذَهُ . َض َل أ َما فَ فَ
Muhammad bin Minhal menceritakan kepada kami; Yazid bin Zurai’ menceritakan kepada kami; Umar bin Muhammad bin Zaid menceritakan kepada kami, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Rasulullah Saw, beliau bersabda:
“Bedakanlah diri kamu dari orang-orang musyrik, biarkanlah jenggot dan rapikanlah kumis”.
Apabila Ibnu Umar melaksanakan ibadah haji atau Umrah, beliau menggenggam jenggotnya, yang berlebih (dari genggaman itu) ia potong.
Apakah perintah Rasulullah Saw “Biarkanlah jenggot!” diatas mengandung makna wajib? Atau hanya bersifat anjuran (an-Nadab)?
Ulama Mazhab Syafi’i berpendapat bahwa makna perintah di atas hanya bersifat anjuran, bukan wajib, oleh sebab itu mencukur jenggot hanya dikatakan makruh. Berikut ini beberapa teks dari kitab-kitab ulama kalangan mazhab Syafi’i:
ُم ُرودَ ِة َو ُح ْس ِن ال ُّصو َرةِ ًرا ِللْ ا لُو ِع َها إيثَ َّو َل طُ َ ِ ْحيَ ِة أ ْي الل َ َها ( أ ) َو ( يُ ْكَرهُ ) نَتْعُ
“Makruh hukumnya mencabut jenggot pada awal tumbuhnya untuk orang yang baru tumbuh jenggot dan untuk penampilan yang bagus”