Salam. Perkenalkan saya Dngaco. Bukan nama asli, karena nama yang tertera di kartu identitas adalah Fadhil. Yup. Salah satu nama yang cukup pasaran di Aceh.
Kalau nama bisa memberikan harta, saya sudah termasuk barisan orang kaya di Nusantara. Bayangkan, dari warung kelontong, toko besi, warung nasi, keude kupi, penyewaan teratak, rental mobil, bengkel, sampai bakul gorengan, ada yg berlabel 'Fadhil'.
Akun ini, adalah kesempatan kedua. Peluang yang saya sangka tidak akan datang lagi. Saya kehilangan password akun yang sebelumnya. Sejak saat itu, setidaknya sudah 6 kali saya mencoba membuat akun baru. Dan akhirnya, yang ke-7 yang diterima.
Tidak mau mengulang kesalahan. Saya mempersiapkan back up data password bukan hanya dengan menyimpan di berbagai media digital. Saya menulis password itu di kertas, membuatnya rangkap 5, dilaminasi, dan disimpan di 5 tempat.
Lalu apa itu *Dngaco. Asal usulnya dari sebuah konsep pelatihan manajemen diri yang pernah saya buat dulu, sebelum memutuskan gantung mic dan pensiun dari dunia trainer.
Dngaco, sebenarnya versi ucapan dari The Ngaco. Ngaco di sini bukan berarti kacau. Tapi singkatan dari Ngehadapin Cobaan. Maafkan bahasa yang jauh dari tata bahasa yang baik dan benar, tapi saat itu memang sedang tren nama-nama program atau kegiatan atau judul buku yang sok gaul.
Nama ini juga saya gunakan untuk akun Instagram saya. @Dngaco. Dan saya gunakan kembali untuk akun ini, karena kehabisan ide nama apa yang bisa digunakan.
Saya seorang suami dari satu istri, ayah dari tiga anak (jangan dibalik). Noodleholic. Penyuka kopi dengan mazhab netral -- sachetan oke, manual oke --, yang percaya bahwa ngopi itu mestinya sambil ngobrol rame, bukan sibuk dengan gadget masing-masing. Saya suka desain, menggambar, tapi itu ilmunya otodidak, karena saya alumni Pertanian bukan Seni Grafis. Saat ini sedang berusaha mewujudkan mimpi jadi penulis, yang punya satu novel best seller sebelum mati.
Itu saja. Salam perkenalan kembali. Mohon bimbingan.