Kawan, kita yang tak pernah lelah memburu waktu, kadang pada waktunya harus rehat di garis mati, menghela nafas, untuk mengambil nafas dan memburunya lagi. Dinding-dinding maya tanpa sekat telah memalingkan wajah kita, hingga untuk sekedar menyapa harus ke warung kopi, bukan bercengkrama, hanya numpang wifi.
Begitulah kita hari-hari memburu garis mati, hingga lupa wajah kawan sendiri. Lalu rindu membuncah, maka aku ke sini, memperkenalkan diri kembali, untuk sesungging senyuman kala kita menghadau kembali gelas kopi, melarutkan tawa di dalamnya, seperti dulu sebelum dijarakkan teknologi.
Interview dengan Juha Cristensen untuk penulisan buku Damai Aceh Resolusi Konflik Model Indonesia terbitan Transisi Foundation
Oya, aku Iskandar Norman, panggil kembali namaku, tanpa harus mengejanya, karena kita sudah saling mengenal. Follow saya . Wassalam.