Akhirnya setelah akun pertama yang sudah di-approve berbulan-bulan lalu hangus, akun baru yang saya ajukan berhasil di-approve lagi. Kali ini saya tidak akan menunda-nunda terlalu lama untuk menulis di steemit.
Salam kenal teman-teman :)
Saya Sugi dari Bandung. Sebenarnya tanah leluhur saya bukan di Kota Kembang ini. Orangtua saya asli Jawa Tengah tepatnya Banyumas dan Kebumen. Orang-orang bilang itu daerah 'ngapak'. Maksudnya bahasa Jawanya bledak-bleduk dengan logat yang khas banget. Jauh dari lembut dan enak didengar seperti bahasa Jawa Solo atau Yogya. Dibandingkan bahasa Jawa-nya Jatim, saya kira, logat daerah Purwokerto, Cilacap, Banyumas, Kebumen, Gombong, dan sekitarnya terdengar sangat berbeda. Pasti steemian yang sedaerah dengan ortu saya mengiyakan. hehehe.
Ada kenangan lucu tentang logat Jawa khas ini. Ini terjadi saat masih rajin naik gunung semasa kuliah. Waktu itu, saya dan rombongan dalam perjalanan mendaki Gunung Slamet. Kami berkenalan dengan seorang gadis cantik asal Purwokerto. Seperti biasa, perkenalan di gunung berlanjut menjadi teman seperjalanan saat muncak dan turun. Kami mengagumi kecantikannya. Kami pun berbagi cerita tentang asal-usul dan lain sebagainya. Nah, begitu saya mendengar logat Purwokertonya, duh... kok rasanya ia tak cantik lagi. Diskriminatif banget ya? hahaha...Maafkan saya, Wi :D
Urusan logat ini juga ternyata membuat seorang teman seangkatan di kampus rendah diri jika harus bicara bahasa Jawa. Alhasil, ia pun mengaku takbisa berbahasa Jawa meski lahir dan besar di Purwokerto. Nah, pada satu kesempatan, saya dan beberapa teman sedang berbelanja di Mirota Kampus. Saat kami sedang antre di kasir, ia disapa seseorang. Ternyata si penyapa itu kawannya semasa SMA. Jadilah mereka ngobrol akrab. Yang membuat kami terpana adalah teman kami yang mengaku tidak bisa bahasa Jawa ternyata bahasa Jawa khas Purwokerto-nya lancar sekali. :D
Saya sendiri bukannya rendah diri, melainkan memang tidak fasih berbahasa Jawa khas Kebumen atau Banyumas. Dulu, semasa kecil, ibu saya sering mewanti-wanti. " Kalau nggak bisa ngomong bahasa daerah yang halus, mending pakai bahasa Indonesia." Nasihat itulah yang membuat saya memutuskan berbahasa Indonesia di tempat-tempat yang saya singgahi di negeri tercinta ini.
Selain nasihat ibu, bahasa yang digunakan di rumah kami memang bahasa Indonesia. Saya mengerti bahasa Sunda, tapi tidak fasih. Kadangkala saya menggunakannya saat berbelanja di pasar atau saat ada yang mengajak ngobrol dengan bahasa Sunda. Itu pun terbata-bata. Duh...
S aya memang tidak fasih bicara bahasa Jawa dari leluhur saya, tetapi hasil bergaul semasa kuliah di Jogja, berhasil membuat saya bisa berbicara bahasa Jawa Yogya dan Jawa Timur-an. Kebetulan suami saya asli Ponorogo, Jawa Timur. Logat bahasa Jawanya meskipun ada di wilayah Jatim, logat Ponorogo lebih condong ke Solo.
Yang penting, saya bisa berkomunikasi dalam tiga bahasa daerah. Minimal paham yang disampaikan lawan bicara saya dan saya bisa menjawabnya dengan kosa kata sederhana. Jawa, Sunda, dan Ternate. Sebenarnya bukan bahasa Ternate milik suku Ternate. Bahasa Ternate ini lebih ke bahasa Indonesia khas Ternate. Begitu kira-kira :)
Bahasa Indonesia khas Ternate ini saya dapat ketika saya tinggal di Kota Ternate pada tahun 2004 silam. Empat tahun tinggal di sana membuat saya terbiasa dengan struktur kalimat yang dibolak-balik. Membingungkan, tapi seru :D
Sebagai guru bahasa Indonesia, kadangkala gemes ingin mengingatkan struktur kalimat yang kacau itu, tapi karena sudah menjadi kebiasaan masyarakat di sana, ya saya maklumi saja.
Baiklah, ini sekelumit perkenalan dari saya. Selanjutnya, kita akan saling menyapa lewat tulisan-tulisan kita. Saya menyukai tema-tema seputar filsafat, sejarah, agama, budaya, sosial, parenting, dan pendidikan. Hati ini sangat senang dan terbuka bertukar pikiran dengan steemian sekalian
Tabik