Hay rekan semua pengguna steemit, ngeri juga lihat foto sendiri, seperti foto tahanan menunggu interogasi,,,hehehe
Perkenalkan nama saya Ferry Afrizal, saat kecil dipanggil dengan nama Afrizal, dalam perjalanan waktu saya dikenal dengan nama Cobra (sebutan sandi), saya lahir dan besar di sebuah desa bernama Guha Uleue, sebuah desa yang jauh dari kebisingan kota dan lokasinya berada di pedalaman negeri sultan (Aceh), saya sebelumnya sempat kuliah di Aceh dan mencicipi dunia gerakan sosial hingga menyelam ke dunia “aktivisme” bersama kawan-kawan yang lain, kemudian saya sangat ketagihan dan masih belum menemukan klimaksnya dan saya masih konsisten berjalan di garis yang mempunyai nilai kemanusiaan.
Sejauh ini, saya masih belum kapok dengan gerakan Hak Asasi Manusia, terutama terkait issue pelanggaran HAM masa lalu di Aceh, dalam hal KKR Aceh salah satunya.
Nasib dan takdir ditentukan oleh Ilahi Rabbi, sehingga saya merantau ke Jakarta, yang Alhamdulillah saat ini saya sudah memiliki keluarga kecil dengan seorang istri yang cantik jelita baik hati maupun parasnya, disamping itu Allah SWT mengaruniai anak laki-laki kembar yang kata orang sangat lucu dan ganteng (seperti ayahnya kali ya,,,,hehehehehhe), saya memberi nama bayi kembar kami yang pertama Teuku Malik Arda dan yang kedua Teuku Malik Fidal (kemudian akrab disebut sebagai Duo Malik).
Saat ini saya hanya berprofesi sebagai pekerja biasa, pekerjaan yang tidak kaku akan aturan formalitas dan birokrasi, yaa saya menjalani sebagai wirausaha di pasar online, dominan saya menjual sepatu berbagai merk dan tipe, Alhamdulillah saya bisa mendapatkan rezeki dari usaha itu dan bisa memenuhi kewajiban nafkah bagi keluarga kecil saya.
Walaupun sebelumnya, saya pernah bekerja di KontraS Jakarta, TURC, Notaris Kabupaten Bogor, dan beberapa tempat lainnya, namun saat ini saya sangat enjoy dengan profesi saya yang baru (pengangguran tetapi berpenghasilan,,,hehehehehe).
Oke lah kalau begitu, dominan kawan-kawan sudah mengenal saya sebagai “perusuh”, hehehehe,,,jadi tidak perlu lah saya ceritakan panjang lebar kisah hidup seperti layaknya novel cinta.
Bagi saya, hidup ini hanya ada dua pilihan, mati sebagai pejuang atau hidup sebagai pecundang.
Inspirasi saya adalah Sub Comandante Marcos pejuang Ciapas, yang berani melawan industrialisasi masyarakat adat, walaupun mereka memiliki senjata api, namun mereka melawan negara melalui kata.
(kata adalah senjata “zapatista”)