kelam kembali merenggut perjalanan kita, wolf
ketika malam bertandang, gerimis menyambangi lakuku, dan mengabarkan rembulan yang ditelan gerhana.
Jalan ini hanya tinggal jejak yang memendek dalam gelap. Seakan terbentur dinding waktu dalam pekat ingatanku membayangkan sekejap dekap yang berlalu
Jalan ini masih menyimpan kerinduan tertahan. Pohon-pohon tegak merekam pertautan jemari takut lepas genggaman. Yang membuat tatap sayu matamu
Ah andai saja kau di sampingku kini, mungkin kau kembali merajuk, melihat jalur lengang tak bertepi. Seperti saat ponselmu berbunyi lantas kautangkap kerling bola mataku ragu
Aku tak bertanya mengapa kau tega, menggaritkan luka di pergelangan tangan yang telah memelukmu sepenuh cinta dan meyakini luput prasangka
Aku terpaku pada garis marka, tak melihat peta perjalanan hati, yang kuserahkan di telapak tanganmu, hingga nasib pagiku tinggal sebaris warna menyala di kedip matamu