"Kamu muslim, kan?"
Aku mengangguk. Harusnya dia tahu kan? Eh, enggak juga ding. Aku pernah beberapa kali melihat biarawati yang memakai tutup kepala. Sepintas, mirip hijab yang dikenakan di Indonesia karena ada lengkung atas yang membayangi wajah. Sebenarnya beda sih, tapi namanya juga bule, kadang mereka sulit membedakan. Pernah ada nenek-nenek di jalan bertanya, "Nak, kamu ke gereja atau mesjid?"
Ah dunia.
"Kamu percaya Tuhan berarti? Kehidupan setelah mati? Reinkarnasi?" Aku mengembalikan fokusku pada dia. Kami sedang makan siang di kantin kampus ketika tiba-tiba dia kepo. Padahal sudah hampir setahun kami mengenal sejak kuliah di Universität zu Lübeck, Jerman.
"Surga neraka." Aku mengoreksi, otomatis. Reinkarnasi, tidak.
"Kalau sesuatu terjadi padamu, kamu percaya itu karena Tuhan?"
Aku tersenyum, "Kamu sendiri?"
Dia tersenyum, "Waktu kecil aku berdoa, ke kuil. Ketika dewasa, sekitaran SMA, aku memutuskan berhenti percaya pada Tuhan."
Aku mengangguk, bukan tanda setuju. Hanya isyarat mengikuti ceritanya.
"Bagiku menyebalkan. Jika aku mendapatkan sesuatu yang baik, terus ibuku berkata, "Kamu harus bersyukur pada Tuhan!" sebaliknya kalau aku sial, nilai jelek, ibuku bilang itu gara-gara kesalahanku sendiri!"
Aku tertawa melihat ekspresi cemberut yang lucu. Dia melanjutkan,
"Coba, mengapa Tuhan yang harus mendapat kredit atas semua usaha keras yang kulakukan? Itu menyebalkan sekali, kan?"
Aku memandangnya. Lalu melihat keluar jendela. Langit sedang kelabu. Dan aku tidak memerlukan waktu banyak, untuk menjawab.
~Jerman, ketika jeda makan siang menjadi pembicaraan yang lebih serius dari seharusnya