Tadi malam, saat dalam perjalanan pulang ke rumah, tiba-tiba turun hujan deras dan saya memilih singgah di depan sebuah ruko untuk berteduh. Di belakang saya, seorang pemuda mengendarai sepmor (CBR) juga ikut singgah di tempat yang sama. Tak ada orang lain, hanya kami berdua.
Obrolan sempat mengalir beberapa saat, meski kami tidak saling kenal. Tapi saya tidak fokus. Istilahnya hanya sekadar basa-basi saja. Lalu kami saling sibuk dengan Hp masing-masing, sambil menunggu hujan reda. Tapi hujannya semacam awet begitu, hehehe.
Mungkin karena tak sanggup menunggu atau ada hal mendesak lainnya, si pemuda tadi memilih melanjutkan perjalanannya lagi, meski hujan belum berhenti. Karena saya tipe penyabar, maka saya pilih menunggu saja hingga hujan benar berhenti. Lebay sedikit, hik hik hik.
Oa, tak lama setelah pemuda itu pergi. Seorang pria lain singgah di lokasi tadi, juga untuk berteduh. Pria ini, mengendarai sepmor jenis Vario. Dia jujur. Buktinya, dia langsung menegur saya dan menanyakan Hp siapa yang tertinggal di kursi.
Kebetulan kursi itu tidak begitu jauh dari posisi saya.
Saya teringat, si pemuda tadi sempat duduk di kursi tersebut. Spontan saja saya jawab, Hp itu milik seorang pemuda pengendara CBR, yang juga sempat singgah untuk berteduh.
Kami sepakat membuka hp (yang tergolong mahal) itu, dan ternyata benar ada foto si pemuda tersebut mengenderai sepmornya. Hore saya benar. Pria penemu ini pun tanpa ragu langsung menyerahkan Hp tadi kepada saya.
Kalau saya menggelapkan, sah-sah saja toh sang penemu dan pemilik Hp tidak ada yang mengenali saya. Tinggal mematikan dan membuang kartu sim saja selesai. Hp yang saya taksir sekitar lebih dari Rp 2 juta itu, jadi deh milik saya. Hehehhe.
Pemirsa. Karena Hp itu bukan milik saya, maka saya tidak punya hak untuk menguasainya apalagi menjual. Mungkin saja saya lolos dengan pemiliknya. Tapi tidak dengan Tuhan (Allah) di hari pertanggung jawaban nanti.
Sempat berpikir, andai saja tiga unit Hp saya yang hilang beberapa bulan lalu, kemudian sang penemu atau pengambil lalu mengembalikannya. Tentu akan saya beri hadiah untuknya. Ah ya sudah. Nasi telah menjadi bubur. Lagian nanti hanya ada dua tempat; surga dan neraka.
Kembali ke Hp tadi. Karena bukan sebagai pemilik, maka saya merasa bertanggung jawab untuk memberitahukan ke beberapa nomor telepon yang ada di buku telepon Hp tersebut dgn bunyi; hp tertinggal, bla bla bla.
Sekitar satu jam kemudian, sang pemilik menelepon ke salah satu nomor di Hp (Karena ada dua kartu) yang saya pegang tersebut. Saya bertanya beberapa poin penting!.
Setelah saya interogasi, mulai dari foto dan lain sebagainya yang berkaitan dengan Hp tadi. Ternyata benar, pemuda tadi adalah pemilik sah. Kami sepakat membuat pertemuan di sebuah tempat.
Kami kembali mengobrol (tetapi tidak lama). Lalu Hp itu saya kembalikan kepada yang berhak. Pemuda itupun meminta terimakasih dan berlalu pergi begitu saja.
Semoga bermanfaat bagi kita.
Tulisan ini pernah saya posting di Faceebok pada 23 November 2016.