Hari selasa 19 Mei 2015 merupakan hari yang Aku bahkan temanku impikan setelah lulus jenjang Sekolah Menengah Atas dan mulai menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi. Betapa senangnya kami bersama orang tua dan orang terdekat di hari yang spesial itu. Raut wajah yang penuh senyuman tampak di setiap wajah yang berada di ruangan Aula Malikussaleh Universitas Malikussaleh. Inilah hari dimana perjuangan kami untuk mendapatkan gelar sarjana dalam bentuk wisuda.
Semua Wisudawan Wisudawati terlihat menunggu untuk dipanggil ke mimbar pengukuhan gelar sarjana.
Dan tibalah ketika Rektor memindahkan tali toga dari kiri ke kanan yang menjadi simbol pernyataan bahwa mahasiswa telah lulus dan siap untuk terjun ke masyarakat.
Betapa bahagianya Aku setelah pemindahan tali toga tersebut. Aku pun berjalan menuruni mimbar dan mengarahkan pandangan kearah Ibuku. Dalam hatiku berkata " Inilah Aku yang Ibu idamkan selama ini menjadi sarjana".
Hari itu memang berakhir bahagia. Tetapi perjalananku mendapatkan gelar sarjana tidaklah mudah. Aku adalah mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Malikussaleh yang menyelesaikan studi sarjanaku dalam rentang waktu 7 tahun. Waktu tempuh pendidikan yang sangat lama dan sebelumnya Ku dikenal sebagai Mahasiswa Abadi. Studiku berawal sangat baik. Bahkan Aku sempat mengambil mata kuliah semester atas bersama temanku. Tapi masa-masa sulit kualami setelah semester 4 berlalu. Aku mulai mengalami masalah dalam keluargaku. Dan itu membuatku jadi jatuh. Aku mulai melewati masa-masa dengan game online di warnet. Ya game lah yang menjadi pilihan melepas stress akan probelamaku dalam keluarga. Tapi Aku tidak menyadari itulah awal kehancuran diriku.
sifat yang tertutup membuatku terkurung dalam permasalahanku. Aku cuma menyisakan 4 mata kuliah utama. Tapi apa daya game membuat terlena sehingga Aku mengulang mata kuliah yang sama sampai 4 kali. Aku berualang kali bertatapan muka dengan Dosen yang sama dan mata kuliah yang sama pula. Mungkin Dosen tersebut sudah muak melihat mukaku, tetapi itu hanya pikiran jelekku. Tidak mungkin seorang Dosen muak melihatku yang terus mengulang mata kuliah yang diampunya. Prihatin kata yang tepat untukku. Hingga akhirnya Aku mulai membuka diri. Teman-teman hingga dosenku memberi motivasi. Meskipun sulit Ku mengulang mata kuliah. Ya semua pun tau saat sulit adalah ketika ketika mengulang mata kuliah bersama adek-adek angkatan itu yang membuatku canggung. Tapi Aku lalui itu semua dengan keyakinan mewujudkan mimpiku dan orang tua. Akupun banyak mengenal adek leting yang tidak dikenali seangkatanku. Hingga akhirnya Ku bisa melalui studiku dan berakhir bahagia di dalam Aula Malikussaleh yang menyimpan kenangan indah bagiku. Aku pun memasuki dunia kerja yang membuatku bisa membantu perekonomian keluarga. Karena keluargaku mempunyai riwayat pendidikan rendah dan berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Note.
Nah bagi Kalian yang mau dan sedang menjalani studi Pendidikan Tinggi jangan takut. Jangan buat biaya ataupun permasalahan lainnya membuat Kalian terhenti menggapai pendidikan tinggi. Terbukalah dalam setiap permasalahan. Insya ALLAH akan ada jalan dan akhir yang bahagia. Istilahnya "Happy Ending". He he