Jika anda menikah di kampung, urusannya bukan saja menjadi masalah keluarga saja. Tapi melibatkan orang sekampung.
Begitu yang terjadi di Takengon. Ceritanya begini, sebagai ilustrasi, Mahlizar Safdi sudah menemukan tambatan hatinya, dia akan bercerita keinginan menyunting sang pujaan pada ibu atau ibi, kakak kandung amanya
Sang Ibi, akan menyampaikan hal itu, pada sang ayah. Berembuklah keluarga untuk melamar.
Keluarga akan memanggil perangkat Kampung. Imam Kampung bersama perwakilan keluarga akan datang ke rumah keluarga pujaan hati Mahlizar.
Musyawarah antar calon ume berume ini bisa alot. Bila Mahlizar dan calonnya tidak punya kesepakatan tentang berapa gram emas, perlengkapan lemari, tempat tidur serta uang hangus.
Jika Mahlizar sudah punya komitnen, musyawarah tak berlangsung lama. Kedua belah pihak tinggal mengikuti kemauan kedua orang yang akan dinikahkan ini.
Bila musyawarah menentukan mahar ini tidak menentukan titik temu, maka musyawarahkan akan jeda sesaat. Disebut "bedusun".
Bedusun ini kedua belah pihak bubar sebentar dari musyawarah. Tapi masih di rumah calon mempelai wanita.
Keluarga Mahlizar berembuk lagi apakah menyanggupi atau tidak pada permintaan mahar dan lainnya.
Biasanya, Perangkat kampung Dari Desa Mahlizar menelpon ibu atau ibi Mahlizar guna memastikan kesanggupan nilai mahar.
Musyawarah dilanjutkan lagi. Waktu melamar umumnya pagi hingga jelang siang. Nek matanlo.
Jika didapat kesepahaman, dilanjutkan dengan hari, bulan dan tahun pernikahan. Setelah waktu menikah deal. Utusan akan pulang.
Nah, setelah proses ini, keluarga Mahlizar akan mengundang perangkat desa bersama orang se dusunnya.
Dalam pertemuan itu, keluarga menyatakan menyerahkan kegiatan pernikahan di hari "H" pada Kepala Dusun.
Nah, kepala dusun akan memegang buku dan pulpen, membuat panitia pernikahan Mahlizar. Warga sekampung akan dilibatkan dengan hajat besar pernikahan ini.
Sebagian warga akan bejantar, atau mencari sayur, menangkap ikan di danau atau sungai hingga berburu rusa atau kambing hutan.
Sebagian lainnya mencari kayu bakar, membuat ruang tambahan (benten) untuk acara kesenian didong.
Kalangan ibu ibu akan mango, atau mengundang warga dari kampung lain dengan membawa termos kopi dan teh.
Di hari pernikahan, keluarga hanya melihat kebutuhan yang kurang atau memberi puding pada pekerja.
Mulai memasak, berhidang, menerima tamu, cuci piring, ditangani orang sekampung. Mahlizar dan istri tinggal duduk bagus menjadi raja sehari. Begitu kira kira urusan menikah di kampung