Ditengah teriknya matahari, sambil berjalan, tersenyum dan menyalamiku, seorang anak yang kuingat namanya Haikal menyapaku "Bang, lön meujak cit u Jerman lage drön, entreuk lon jak peugot pesawat lage Pak Habibie". *logat khas Aceh Rayeuk
(Bang, saya mau ke Jerman juga seperti abang, nanti saya mau buat pesawat seperti Pak Habibie". Sederhana bukan?
Dibalik kesederhanaan terdapat mimpi besar dari anak sekecil ini. Syukur yang teramat sangat, dengan izin Allah bisa menjadi saksi bagaimana seorang anak tegas menetapkan cita-citanya. Sedang kawan-kawannya sibuk berlarian untuk pulang, Muhammad Haikal kecil memilih menyalamiku yang sedang asik berselfie ria dengan adik kelasnya.
Beberapa detik berlalu dengan diam karena kekagumanku kepada Habibie kecil ini, subhanallah tiba-tiba beberapa kata keluar begitu saja sesuai dengan kalimat yang sering aku dengar saat seusianya. Sabil berjongkok, kupegang bahunya "Haikal harus rajin belajar beuh, rajin jak beut, dan bek tuwo shalat lima wak? ..."
"tu" jawabnya 😊
Meutuwah, tambahku.
Jak Poto lee (yok kita foto) ajak ku, dengan berpose senyuman terbaik, kami selfie bersama/groufie.Hehehe
Aku yakin pasti banyak sekali Haikal dan Haikal lain di luar sana dengan cita-cita istimewanya. Pandangan polos mereka menginspirasiku untuk terus berbuat untuk pendidikan, bahkan sekecil apapun itu.
Alhamdulillah, satu hari yang istimewa dengan orang-orang istimewa.
Teman-teman fasilitator, dokumentator, dan inspirator dari berbagai latar belakang sangat luar biasa bersemangat Lillahita'ala.