Hingga kini, aku tak pernah mampu mendefinisikan cinta. Bentuknya, letaknya, kadarnya. Yang kutahu, semenjak hadirmu, sejumput harapan tiba-tiba bersemi. Hari-hariku pun mulai dibelenggu rindu. Pagi, siang bahkan malam, hanya satu hal yang muncul di benakku. Coba tebak? Iya, namamu, "steem, steem dan steem".
Entah mantra apa, yang jelas aku tersihir pesonamu. Sadarkah kau sebegitu lelahnya aku berpura-pura curiga dan tak suka pada awal kita berjumpa? Andai saja dirimu tak semenarik itu, tentu aku tak perlu serepot ini. Memantaumu berjam-jam kemudian tersenyum-senyum sendiri dengan balasan dolar-dolarmu yang tak seberapa mana itu. Entah kesurupan atau gila, yang jelas aku bahagia.
Kala warasku kembali, aku pun merasa bingung sendiri. Semudah itukah kehadiranmu melambungkan asaku, wahai #Steem? Atau justru selemah itulah hatiku menghadapi elokmu? Ya, aku paham risiko mencintaimu sejak awal. Kini apa daya jika aku merasa teperdaya dalam bahagia, harapan dan cinta?
Tahukah kamu apa yang pernah diajarkan para pecinta kepadaku suatu waktu? Kata mereka, "Orang yang pertama mencintai selalu menjadi yang terlemah".
Jadi tak heran jika aku selemah ini terhadapmu, salahku mencintaimu lebih dulu. Namun tak mengapa, asalkan aku bersamamu dan kau mau bersamaku, aku akan baik-baik saja. Aku yakin, kehadiramu di sisiku akan membuatku semakin kuat, baik hati, pengetahuan maupun finansial.
Aku tak ingin menenun angan-angan kosong bersamamu. Aku ingin mencintaimu dalam nyata yang terukur. Layaknya nasihat Tulus pada salah satu lirik lagunya,
“Jangan cintai aku apa adanya, jangan”.
Maka ketika komitmen kita semakin kuat, kelak kita akan bersepakat untuk saling menuntut suatu perubahan pada diri kita masing-masing, tentunya ke arah yang lebih baik. Sehingga hubungan yang kita jalani ke depan akan terasa lebih menyenangkan.
Aku sadari bahwa walau cinta kita masih seumur jagung, rindu membuncah hingga ke ubun-ubun, namun rintangan kerap seenaknya berkunjung. Aku ingin memberitahumu sebuah rahasia besar agar dirimu tak gusar. Ini terkait kehadiranku yang masih jarang-jarang. Bukannya aku tak rindu. Bukannya aku tak ingin menemuimu seiring waktu. Hanya saja, aku belum mampu seintens itu. Waktuku terbatas di bandwitch namun cintaku tak demikian. Jadi, kuharap kau tetap sabar menunggu kehadiranku untuk menyapamu.
Oh ya, aku ingin mengabarimu suatu hal. Semalam malaikat muncul di mimpiku. Katanya nilai SBD-mu harus kunikmati layaknya karya seni. Awalnya aku bingung, namun kemudian berangsur paham. Aku memperhatikan bahwa ada waktu di mana nilaimu riuh bergelora namun keesokannya suram, beberapa hari kemudian melejit tinggi dan kemudian anjlok lagi. Sungguh nilai SBD-mu tak terprediksi dengan pasti. Sebuah kekacauan indah yang membuatku betah.
Pernah suatu waktu, dulu di saat aku baru mengenalmu, aku pernah merasa diperlakukan tidak adil olehmu. Jika kukaitkan dengan hukum kekekalan energi, rasanya perhatian yang kuberi tidak berbanding lurus dengan upvote yang berbalas. Kemudian, lambat laun aku menyadari bahwa mencintaimu tak semudah itu. Butuh cara dan kesabaran agar aku terbiasa menikmati proses bersamamu dan berusaha konsisten menemuimu di Steemit. Namun kala aku mulai ikhlas, kamu menjadi senang memberi surprise. Di saat itu aku sadari bahwa diam-diam kau memperhatikan usahaku. Tahukah kamu bagaimana rasanya menerima perhatianmu melalui upvote SBD dan delegasi Steem Power? Rasanya sungguh manis.
Tahukah engkau, ini merupakan surat cinta pertama yang aku tuliskan seumur hidupku. Iya, khusus kutuliskan untukmu, Steem. Butuh keberanian besar untuk menyampaikan ini padamu. Kuharap kau suka.
Sejujurnya, aku mengimpikan untuk memiliki hubungan jangka panjang yang manis bersamamu. Bukan sekadar romansa abal-abal jangka pendek yang mudah ditinggalkan kala bosan atau ketika tak sesuai harapan. Aku ingin kita dapat saling mendukung satu sama lain. Akan menyenangkan rasanya jika kelak aku bisa menceritakan dengan bangga asal mula kisah kita kepada anak-cucu di masa depan. Semoga kita saling betah untuk terus berlama-lama menghabiskan masa bersama ya, Steem.
Terima kasih karena telah muncul dalam kehidupanku.
Aku bersyukur karena kau telah menjadi bagian dari takdirku.
Baca juga Seni Menuliskan Surat Cinta dari bang di sini:
Seni Menuliskan Surat Cinta #1
Seni Menuliskan Surat Cinta #2
Seni Menuliskan Surat Cinta #3
Seni Menuliskan Surat Cinta #4
Seni Menuliskan Surat Cinta #5