Logo Steem. Source
Dear Steem,
Tahukah kamu, bertemu Zenja adalah ritual paling menyenangkan buatku. Melihatnya berbicara atau diam sama-sama mengasyikkan. Tapi, kalau boleh jujur, aku lebih suka mengamatinya dalam diam, menatap matanya tanpa ada sepatah kata pun yang menyela kekhusyukan itu. Aku selalu senang mendengarkan godaan-godaannya yang sering terasa garing di telinga, tapi lembut di hati, bikin meleleh, seperti eskrim terkena paparan sinar matahari pukul dua belas siang.
Tapi, hm, sejak mengenalmu, rasanya aku justru ingin menghabiskan banyak waktu denganmu. Timbul hasrat untuk mengetahui lebih banyak lagi tentangmu, mendadak aku merasa seperti orang Jawa yang sangat memerhatikan bebet, bibit, bobot ketika ingin memilih seseorang sebagai jodohnya. Aku, merasa seperti orang yang sedang mabuk kepayang, membicarakanmu nyaris sepanjang waktu, tak peduli ruang dan waktu. Ya, diam-diam kau telah menempati salah satu ruang di hatiku, ruang yang selama ini menjadi tempat bagi Zenja untuk berlalu-lalang. Aku khawatir, bagaimana jika tiba-tiba kalian saling bertemu di bilik itu, bertabrakan, dan membuat keriuhan di sana.
Dear Steem,
Bersama Ibu dan adik
Aku jadi terkenang kembali pada hari-hari di masa awal perkenalan kita, wajahmu (baca: logo) tampak begitu elegan dengan tiga garis lengkung nan bersahaja. Warnamu yang sebiru langit, sebiru samudra, memancarkan aura kedamaian dan ketenangan. Meneduhkan. Membuatku langsung jatuh hati. Saat itu aku membatin, inikah oase yang dikirim semesta untuk menyejukkan kekeringan di hatiku?
Aku juga masih ingat hari-hari saat aku mengenalkanmu kepada Ibu. Waktu itu, rasanya waktu menjadi sangat lama, tak sabar aku menuntaskan segala rutinitas agar bisa segera pulang dan bertemu Ibu. Sampai di rumah buru-buru aku meletakkan ransel, mengeluarkan Lapie, lalu menunjukkan siapa dirimu kepada Ibu, tanpa malu-malu. Ya ampun, nyaris norak, sebab sama sekali tak bisa kusembunyikan kegiranganku. Beda sekali saat aku menceritakan tentang Zenja, nyaris tanpa gemerisik.
Ibu, ya, dialah perempuan paling kucintai di dunia ini. Satu-satunya orang tua yang tersisa, pelita yang selalu menerangi jalanku, yang restunya selalu kupinta untuk kemudahan segala aktivitasku. Makanya, aku tak menunggu waktu lama untuk mengenalkanmu kepada Ibu. Seperti dugaanku, mata Ibu langsung berbinar begitu melihat garis lengkungmu, ia ikut tersirap dalam keteduhan aura warnamu, kebahagiaan Ibu adalah sumber dari segala kebahagiaan dalam diriku. Dalam hati aku memekik bahagia, aku tidak salah memilihmu, Steem. Melalui dirimu terbit secercah harapan dalam diri Ibu, harapan yang selama ini Ibu simpan rapat di hatinya. Buatku, kamu tidak hanya hadir untuk diriku saja, tapi juga harus hadir untuk Ibu dan keluargaku. Kamu tidak hanya memberi senyum untukku, tetapi juga untuk mereka
Kukira, itulah yang membuat Ibu kini menjadi sangat peduli padamu. Setiap telepon ia sering menanyakan bagaimana kabarmu, jika kondisimu baik, aku bilang kau sedang hijau, jika kondisimu kurang sehat, aku bilang kau berwarna merah heheheh. Aku kira, hijau dan merah adalah kiasan yang tepat untuk menggambarkan kondisi fisikmu. Dan... ini membuat Zenja cemburu padamu.
Dear Steem,
I love Steem. Source
Kau tahu apa artinya suka dan cinta? Dua hal ini akan menstimulasi kita menjadi seorang penjelajah untuk mengetahui lebih banyak hal tentang sesuatu yang kita sukai dan cintai itu. Itulah yang berlaku padaku sekarang. Buatku, kamu itu seperti teka-teki yang tak mudah, seperti permainan catur yang tampaknya rumit, tapi sangat mengasyikkan, untuk menaklukkanmu, harus pandai-pandai mengawinkan logika dan kejelian. Tapi sekali berhasil membuatmu bertekuk lutut, selamanya bendera kemerdekaan akan berkibar. Jika itu terwujud, perlukah mencari cinta yang lain?[]