Jumat (13/4), aku dan menyusuri pelosok gampong di Pidie. Rutenya dimulai dari Kota Sigli, Grong-grong, kemudian memutar ke arah gampong Reuba dan Reubee, Garot, lalu balik lagi ke Paloh. Kami mencari masjid yang sedikit unik untuk shalat Jumat.
"Kita cari masjid yang punya nilai sejarah," kataku kepada Andy yang duduk di belakang stir.
"Ya, makanya kita putar-putar dulu, kalau ada masjid yang pas kita berhenti," jawabannya.
Suara Mukhlis, vokalis Nyawong, menemani perjalanan kami di siang yang sedikit terik itu. Mulai dari Saleum, Prang Sabi hingga Panglima Prang. Lalu, suara Ella mengalun merdu dengan tembangnya yang hit pada masanya: Sembilu dan Sepi Sekuntum Mawar Merah.
"Geuthat meu melankolis lagu kah," kata Andy sejurus kemudian. Pun begitu, dia mengaku menikmati tembang yang membuatnya terkenang akan romansa cinta masa lalu.
"Hana sempat kugantoe ngon lagu laen lom," aku memberinya alasan.
Mobil yang dikemudikan Andy terus melaju, melalui jalan gampong yang banyak berlubang, melewati hamparan sawah yang baru saja selesai dipanen. Tiap melewati sekolah, Andy memperlambat kendaraan, memberi kesempatan kepada murid sekolah untuk melintas.
"Tanyoe han akan pernah le tarasa lagee masa-masa aneuk miet nyan." Ada nada perih saat Andy mengatakan kalimat itu. Aku menoleh, dan melihat warna perak mulai memenuhi rambutnya.
"Tanyoe ka tuha, Andy." Lalu, kami berdua terdiam. Enam belas tahun lalu, aku dan banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Saat itu kami masih lajang, mencoba menjajal profesi wartawan. Beberapa kali kami meliput bareng, memburu narasumber. Kadang naik taxi, tapi lebih sering jalan kaki.
Sepanjang jalan Reubee-Garot, kami disuguhi pohon asam Jawa yang masih rimbun, di kiri-kanan jalan. Diameter pohon itu tidak sebanding dengan lebar jalan yang hanya muat dua mobil, itu pun salah satunya harus menggeser lebih ke tepi.
Di beberapa lokasi, keberadaan pohon asam Jawa itu cukup rapi, posisinya sejajar antara di kiri-kanan kanan jalan. Dahannya saling menyentuh, dan daunnya menyatu.
"Nyan ka kalon, kiban get akai Belanda. Ditem pula bak mee nyan," kata Andy menunjuk ke pohon asam yang tumbuh rapi itu.
"Lagak that, lagee setting lokasi bak film Game of Thrones," kataku, sekenanya. Setidaknya ada dua setting lokasi di film Game of Thrones yang menyerupai lokasi di jalan Reubee-Garot: pada adegan Podrik menemani Brienne, dan pada adegan Brienne mengantar Jaime Lannister.
Aku tidak tahu persis apa alasan orang Belanda dulu menanam pohon ini. Apakah untuk diambil kayu dan buahnya atau untuk memudahkan mereka berlindung dari serangan tiba-tiba pejuang Aceh? Aku tak bisa menjawab pasti karena tidak cukup referensi.
Pun begitu, aku tahu sedikit keistimewaan pohon ini dibandingkan trembesi yang kini banyak ditanam di jalan-jalan di kota besar. Pohon asam Jawa itu sangat kuat dan tidak mudah rubuh diterjang angin kencang; pohon ini jarang sekali bolong di tengahnya, sehingga tak mudah patah.
Pohon ini sangat aman ditanam di pinggir jalan, dan kita tak perlu khawatir pohon ini tumbang hingga mengenai kendaraan yang melintas. Kasus tumbangnya pohon mengenai badan jalan yang sering kita saksikan dalam berita di televisi hampir tak pernah pada pohon asam Jawa. Sekiranya Kohler atau Snouck masih hidup, aku akan bertanya soal ini. Tapi...ah, sudahlah.
Masjid Raya Pidie-Labui, Pidie