Kedigdayaan Soeharto dan 'imperium' Orde Baru-nya tumbang pada bulan Mei. Bagi Indonesia, bulan Mei merupakan tonggak penting perjalanan bangsa. Gelombang reformasi yang dimotori mahasiswa sukses mendongkel kekuasaan Soeharto dan memaksanya 'pensiun dini' dari jabatan presiden, dan hal ini terjadi pada bulan Mei. Bagi Aceh, bulan Mei dikenang sebagai salah satu babak kelam sejarah Aceh, setelah ribuan serdadu dikerahkan untuk membunuh anak bangsa sendiri yang 'dilegalkan' di bawah payung Darurat Militer.
Aku yakin, setiap anak Aceh punya ingatan tersendiri terkait 'tragedi' pada Mei tahun 2003 itu, bahkan juga di bulan-bulan lain. Ada banyak lembaran duka yang bisa dibuka, dan sungguh tak bakal habis-habisnya untuk ditulis. Semua itu memang bukan untuk diingat, tapi tak juga boleh dilupakan.
Mumpung masih bulan Mei, aku ingin membagi sedikit cerita yang kualami pada bulan Mei. Saat itu, cerita seperti ini sangatlah tidak 'enak' untuk dijalani, namun kini menjadi menarik diceritakan bahkan dengan perasaan riang. Aku ingat, hari itu tanggal 6 Mei 2001, kami dari Himpunan Aktivis Antimiliter (HANTAM) menggelar demo di bundaran Simpang Lima, Banda Aceh. Dihitung dari jumlah massa, demo itu sama sekali tak menarik diliput oleh media, karena peserta yang hadir hanya belasan orang.
Aksi hari itu menjadi menarik karena isu dan spanduk yang diusung mereka membuat siapa pun yang melintas di kawasan bundaran terpaksa berhenti sejenak. Mereka membawa sebuah spanduk hitam dalam ukuran besar, berisi tulisan "CEASE FIRE" yang juga berukuran besar. Kata yang dilukis dengan cat warna putih itu diikuti dengan kalimat "Mendesak TNI/Polri dan GAM menghentikan perang dan kembali ke meja perundingan". Di kiri-kanan spanduk terdapat masing-masing bendera GAM dan RI. Para aktivis muda itu juga membawa bendera kecil berupa bendera referendum dan bendera PBB, selain bendera merah putih dan bintang bulan.
Jika biasanya, sebuah demo akan dikawal oleh aparat keamanan, tidak begitu halnya dengan demo yang digelar mahasiswa IAIN Ar Raniry itu. Baru lima menit aksi berjalan, aparat keamanan dari Polresta Banda Aceh dan juga personil TNI dari Kodim 01/01 Banda Aceh dan Aceh, sudah mengepung lokasi demo. Pergerakan mereka membuat lalu lintas di kawasan bundaran itu macet total.
Satu persatu para aktivis ditangkap dan digelandang ke dalam mobil. Semua atribut demo disita. Dalam aksi itu, aku yang memegang bendera bintang bulan dipisahkan dari kawan-kawan yang lain. Sebenarnya, sesuai dengan hasil rapat aksi, pemegang bendera bulan bintang itu jatah orang lain. Aku yang diserahi tugas membuat pernyataan sikap hanya menampingi koordinator lapangan ketika pernyataan itu dibacakan. Namun, sang kawan yang bicara berapi-api ketika rapat dan begitu bersemangat memegang bendera bulan bintang esok harinya, justru tidak muncul bahkan ketika aksi sudah usai.
Aku tak rela ketika melihat bendera bulan bintang tergeletak di tanah. Soalnya bendera 'keramat' itu aku pesan khusus dari Ayah Sofyan, juru bicara GAM Aceh Rayeuk. "Man pue beutoi awak nyoe neuk ba bendera nyoe?" tanya Ayah Sofyan ketika menyerahkan bendera itu melalui seorang penghubung. Tanpa bendera bintang bulan, demo menjadi tak seimbang ketika hanya bendera merah putih saja yang berkibar. Aku mengambil bendera bintang bulan sekali pun itu bukan tugasku.
Aku termasuk yang paling pertama ditangkap dalam demo. Bahkan pihak Polresta dan Kodim sampai berdebat, terkait siapakah yang berhak menangani aksi demo yang membawa bendera GAM itu. Akhirnya, pihak kodim mengalah, dan peserta aksi masing-masing dibawa ke Mapolda Aceh, dan aku sendiri ke Polresta Banda Aceh. Imam Juaini yang memegang bendera merah putih, rupanya termasuk yang dipukul di lapangan. "Tapi, saya pegang bendera kita, pak" protesnya. Sekali lagi dia disepak sampai rubuh.
Ada kejadian unik ketika tas milikku dibuka dan isinya ditumpahkan. Stempel jatuh satu demi satu, dan meloncat-loncat. Dokumen HANTAM dan buku bacaan yang selalu kubawa juga digelar di trotoar. Dompetku juga disita dan isinya dikeluarkan. Ada satu kertas di dalam dompet yang membuat posisiku kiat berat: list nomor handphone satelit orang GAM di lapangan. Aku anggap itu hanya naas, karena sebelum demo lupa kukeluarkan. Dan satu lagi, di dompetku hanya berisi uang Rp5000. Benar-benar demonstran kere!
Kawan-kawanku semuanya diboyong ke Mapolda dengan mobil labi-labi, dan mereka mengaku diperlakukan dengan baik. Ada satu-dua yang kena tampar dan dipukul dengan tongkat komando oleh Kapolda saat itu, Irjen Jusuf Manggarabani. Aku sendiri dibawa ke Polresta dengan mobil Kuda, yang diapit oleh personil polisi, di kiri dan kanan. Ujung senapan SS-1 milik mereka diletakan di sisi kiri-kanan perutku. Rasanya dingin sekali. Sedikit saja salah tekan, isi perutku pasti berhamburan keluar. Tiba di di markas Polresta di Jambo Tape, aku benar-benar jadi santapan empuk mereka yang sedang berjaga.
Begitu aku diturunkan dari mobil, polisi yang mengapitku langsung berseru kepada teman-temannya. "Ini ada GAM," katanya. Dalam sekejap, mereka sudah mengerubungiku seperti kawanan lebah yang menyerang manusia. Aku disepak, ditendang, ditinju, dan ditarik-tarik. Aku lemah dan tak berdaya. Sebentar kemudian, karena dipukul di bagian mata, aku tidak mampu melihat dengan sempurna. Aku terhuyung-huyung dan kelabakan seperti orang buta.
Aku ingat, aksi itu berlangsung sejak di halaman Polres, dan terus begitu sampai aku dibawa melalui lorong kecil ke ruang sel. Di sana pun, para serdadu itu masih terus memukulku sampai aku benar-benar tak berdaya. Lalu, kemudian dibawa ke sebuah ruangan pemeriksaan. Aku ingat, penyiksaan dimulai sejak pukul 10 dan mereka baru berhenti pukul 16.00. Satu kursi plastik hancur ketika diayunkan ke tubuhku, dan darah yang bercampur keringat bercucuran.
Kalian tahu, penyiksaan yang aku alami itu berlangsung hingga lima hari lamanya. Siang dan malam. Bahkan, ketika temanku Muhammad MTA dibawa ke Polres (sementara teman-teman lain sudah dilepaskan pada hari itu juga), dia tak bisa berkata apa-apa. Aku lihat dia sempat menangis saat itu.
Tak banyak hal yang kupelajari selama 16 hari ditahan di Polresta Banda Aceh. Satu-satunya yang aku ingat hanyalah bahwa aku sudah bisa melakukan 'sikap taubat'. Soalnya, siapa pun yang ditahan polisi harus bisa melakukan sikap taubat. Cara melakukan sikap taubat yang benar adalah kaki diangkat ke atas dan menyandar pada dinding, sementara kepala tidak boleh menyentuh lantai.
Aku juga ingat cara mereka membangunkanku dari tidur. Sepatu lars itu diletakkan di kepala, dan mereka berseru: anjing, bangun. Anjing bangun. Sementara cara mereka menyuruh kita mandi adalah, kita diminta berdiri tepat di depan pintu kamar mandi, lalu mereka menendang punggung kita. Kita terpontang-panting dan terpelanting di dalam kamar. Sangat lucu kalau diingat sekarang.
Selama 16 hari aku belajar menjadi korban. Ketika aku dilepaskan dengan status wajib lapor, uang Rp5000 itu turut dikembalikan, tapi bukan lagi uang yang sama saat aku ditangkap. []