Hidup generasi jaman now paling bergantung pada sinyal (dan colokan). Tanpa dua hal ini, mereka merasa terasing dari komunitas dan tidak bisa eksis di dunia maya yang digandrunginya. Sinyal kini menjadi urat nadi mereka.
Aku sendiri merasakan bagaimana dunia seakan gelap ketika jauh dari sinyal. Soal inilah yang paling tidak menyenangkan ketika berada di kampung. Sebagai orang yang sering beraktivitas di dunia maya, aku jelas membutuhkan sinyal lebih dari siapapun. Tanpanya, aktivitas seperti berhenti bergerak.
Dulu sewaktu masih bekerja untuk sebuah koran lokal, aku sering tidak bisa bekerja tiap pulang ke kampung. Akibatnya, aku lebih sering pergi ke kota Sigli untuk bekerja. Di kampung, status jaringan selalu hanya berhenti pada huruf E alias edge. Hanya di beberapa tempat saja tersedia jaringan H+. Namun, kecepatannya begitu payah.
Kini, jaringan koneksi di kampung memang sudah 4G. Itu pun hanya tersedia di beberapa lokasi saja, dan sinyalnya suka muncul hilang. Kalau kebetulan kita mengunggah sesuatu ke salah satu media sosial, sering tidak terkirim sempurna. Kita harus lebih bersabar. Berselancar di dunia maya tidak senyaman berselancar di kota yang sinyal 4G-nya sudah merata.
Di kampung, aku melihat bagaimana orang-orang berburu sinyal 4G seperti orang memburu harta karun. Mereka rela menyendiri di tengah semak belukar, bercengkrama dengan nyamuk dan duduk di atas alas seadanya. Kadang hanya berjongkok di sisi akar sebuah pohon.
Entah kenapa sinyal 4G justru tersedia di kawasan yang sedikit angker itu. Padahal di sekelilingnya banyak terdapat pohon bayu ukuran besar, tertutup dari cahaya langsung. Dulunya kami begitu menghindari berada di tempat itu. Cerita-cerita seram yang menyertai tempat itu kerap kami dengar.
Tak jauh dari lokasi yang memiliki kekuatan sinyal sedikit lebih kuat, terdapat sebuah sumur tua dan sebuah lembah penuh semak. Sumur yang ukurannya tidak pernah kami lihat itu tertutup dengan semak dan nyaris tidak menyerupai sumur, sementara di lembah selalu saja ada yang menggantungkan kain kafan putih yang ketika menghitam akan segera berganti dengan warna yang lebih putih. Selalu begitu.
Saat kecil kami selalu dilarang mendekati dua tempat itu. "Ada penunggunya," begitu orang tua memberitahu kami.
Kita boleh saja tidak percaya. Namun, entah kenapa tiap kami mendekati tempat itu pasti akan jatuh sakit. Itu dulu ketika kami masih kecil-kecil. Kini, di sekitar lokasi tersebut, kami justru menunggu sinyal, seakan-akan kami-lah penunggu di tempat itu. Demi memburu sinyal 4G.