Agustus 1999. (Sekolah Dasar Neg Bungie Dibakar)
 sudah menampakkan batang hidungnya, mereka mulai turun ke desa-desa dan mulai menyerang apasaja yang tidak mereka senangi. Ideolagi harga mati bagi keberlanjutan hidup di negeri ini. Orang-orang yang bersekolah menurut mereka adalah sia-sia bahkan menjadi saingan terberat untuk dihadapi. Dalih perjuangan memerdekakan bangsa ini dari penjajah yang tak lain adalah bagian dari orang pemerintah Indonesia telah didengungkan dengan segenap kobaran semangat yang berapi-api. Tak ada pilihan lain bagi orang seperti kami, menyelamatkan nyawa diri dari kedua belah kubu yang sedang berperang adalah cara satu-satunya untuk hidup.
Kini aku sedang berada di rumah sekolah kami. Waktu menyeretku untuk mengenang masa itu---kenakalan adalah hal yang pertama yang kuingat setelah Guru-guruku. Dimana saat itu wajah kami telah berubah menjadi anak-anak putus asa. Kami hidup dalam belenggu tirani yang menyakitkan terutama menjiwai para pemberontak. Menjadi pencuri bukan suatu permalasahan dan bukan halangan. Kami sering menipu wak-wak yang berjualan di kantin dan mengosongkan barang-barang kios milik orang. Perang telah mengutuk bumi sekitar kami. Wajah-wajah yang sebelumnya polos seteduh air ditelaga bening telah menjadi sangar. Wajah-wajah temanku saat SD beringas bagai anjing kelaparan. Aku melihat anak-anak sekarang lebih ceria daripadaku kami. Aku cemburu manakal menatap mereka. Sungguh waktu tidak bisa berputar kembali. Tuhan telah mengambil masa itu dalam dekapannya.
Sekilas bayangan itu berkelabat dalam pikiranku. Aku juga inga di sudut mesjid tempat kami bermain bola kasti ada sebatang pohon Lawah Piet, buahnya bisa dijadikan roda bagi permainan motor. Di samping sudut jalan ada sebuah pustaka dan sebatang pohon Keutapang. Sering kami duduk membaca buku di sana. Buku-buku bersampul merah menjadi pilihanku. Banyak lagi sebenarnya yang harus kuingat dan kutulis, namun aku tak sanggup membayangkan betapa masa kecil kami itu sangat suram. Terkadang aku mengutuk diriku sendiri, mengutuk tanah negeriku yang di dahului oleh para bedebah yang rela membiarkan anak-anak hidup dalam tatapan kosong. ***(Bungie Maret 2018).