Saya tidak mengerti dengan sikap para presenter yang bertanya dengan ketus, menatap sinis dan memotong jawaban seenaknya. Maksudnya, mereka sedang melakukan apa. Interview kah atau sedang bermain drama. Kok gitu banget.
Dalam sebuah acara, presenter menjadi sosok penentu. Menarik tidaknya sebuah perbincangan, alurnya ditentukan oleh presenter. Tinggi rendahnya rating program juga ditentukan oleh presenter. Berdinamika tidaknya sebuah diskusi, eksekusinya berada di tangan presenter. Presenter adalah Raja dari sebuah kerajaan yang disebut sebagai program acara. Maka hanya presenter hebatlah yang dapat menghantarkan programnya menjadi sukses.
Suasana di balik layar boleh saja gaduh, tetapi presenter harus mampu menujukkan jika semua baik-baik saja. Itulah mengapa profesi presenter dibayar lebih mahal.
Dalam sebuah program, ada beberapa tahapan penting yang akan dilalui oleh seorang presenter. Persiapan merupakan salah satunya. Ini adalah rukun dan syarat sah yang harus dilakukan dengan baik oleh seorang presenter. Persiapan yang dimaksud mulai dari membaca, menyusun draf pertanyaan hingga menyiapkan pakaian yang akan dikenakan.
Membaca menjadi penting agar presenter dapat lebih memahami persoalan dengan baik dan luas. Dengan demikian ia mengerti tentang fakta dan tidak mudah dikibulin oleh narasumber. Bila presenter tidak mengerti tentang topik yang sedang dibahas maka ia sedang menggali kuburannya sendiri.
Wawasan luas yang dimiliki seorang presenter akan membuat diskusi menjadi menarik. Waktu akan berjalan dengan cepat. Bila narasumber berkata "wuih udah satu jam aja", maka presenter tersebut telah berhasil membangun rasa nyaman sepanjang diskusi berlangsung.
Sedih memang saat melihat seorang teman kerepotan ketika membawa program berdurasi satu jam. Padahal acara musik. Program senang-senang di akhir pekan. Sialnya hari itu tidak satupun penonton yang menelepon. Ada yang masuk tetapi terputus. Memasuki 30 menit pertama ia mulai tampak gelisah. Stok pertanyaanya mulai habis. Hingga ia berkata kepada tamu yang hadir di studio "Nanya apalagi ya". Ungkapan bunuh diri di sebuah acara live.
Ada juga beberapa teman yang mungkin terlalu sibuk akhirnya tidak sempat membaca. Hingga masa depan karirnya digantungkan pada secarik kertas berisi draf pertanyaan. Tidak ada improvisasi. Dialog berjalan apa adanya. Kasihan...
Ada satu ketakutan dalam karir seorang presenter tv. Diberi stempel oleh masyarakat. Saya pernah didatangi seorang teman. Ia lalu menyebut satu persatu nama presenter tempat saya bekerja.
" Kenapa?" Saya balik bertanya.
Ternyata ia lebih memilih mematikan tv dari pada harus melihat mereka on air. Waduh..
Stempel ini muncul karena kesalahan presenter baik disadari ataupun tidak. Bisa karena kurang smart, angkuh, kurang beretika, ceroboh, tidak adil atau suka emosi. Ironinya belakangan semakin sering muncul presenter semacam ini.
Dalam beberapa segmen wawancara misalnya. Ada beberapa presenter yang sengaja memasang wajah garang, memandang dengan ujung mata dan mulut dibuat sedikit menganga. Lalu bertanya tanpa ampun hingga narasumber berkata "sebentar dulu". Membingungkan memang, maunya apa sih.
Sikap semacam itu memang bisa hadir karena dua alasan. Pilihan pribadi si presenter atau bimbingan produser yang berteriak dari ruang master control. "TANYA TANYA, JANGAN DIAM. POTONG TERUS!" Susah memang kalau produsernya jareung eh malam.
Lantas pertanyaan berikutnya adalah, apakah marah-marah, ketus dan sok tau adalah pakem baru dalam profesi presenter tv. Apa presenter dianggap berkualitas jika berhasil membuat narasumber membara lalu pergi. Lalu dimana hak penonton untuk mendapatkan informasi. Bukankah tv hadir untuk itu.
Lagian, bukankah narasumber itu datang ke studio karena diundang. Seperti orang yang kita undang ke sebuah acara hajatan atau syukuran. Wajar bukan mereka yang datang dibuat menjadi nyaman. Sehingga dari kondisi itu mengalirlah cerita-cerita yang jujur, seru dan informatif.
Ayolah. Mari kembalikan tv sebagai layar edukasi. Tidak usah ketus apalagi emosi. Sebab ini tv bukan ring tinju. Ini bukan pula kompetisi melainkan ruang untuk berbagi informasi.
Baca Postingan Sebelumnya
Wajah Seterang Purnama Seredup Gerhana https://steemit.com/bloodmoon/@arielogis/wajah-seterang-purnama-seredup-gerhana
Mie Kocok dan Eh Cindoi https://steemit.com/food/@arielogis/food-mie-kocok-dan-eh-cindoi
me time- nya Mak si Nyak https://steemit.com/food/@arielogis/me-timenya-mak-si-nyak
Makan Siang yang Ulala https://steemit.com/food/@arielogis/makan-siang-yang-ulala
Bila Malas Mendera https://steemit.com/steemit/@arielogis/bila-malas-mendera